Senin, 16 Februari 2015

Di Ruang Tunggu Ini

Mungkin, kita memang tidak selamanya bisa untuk menjadi sepasang. Bahkan, menyentuh jemarimu saja adalah sebuah ketidakmungkinan. Kamu, yang kini membuncah di hari dan hatiku, dengan teganya mengundang dilema di dalam hatiku. Pertanyaan terbesarku saat ini adalah: direstuikah niatku ini? 

Melihatmu setiap saat dengan lantunan suara kasar tetapi seksi itu adalah sebuah penawar rindu buatku. Setiap Sabtu, minggu ke-2, aku selalu menunggu-nunggu saat itu. Saat di mana akhirnya aku bisa bercanda, setidaknya berpapasan denganmu. Setelah berpapasan, aku akan bernyanyi bersamamu dengan lagu-lagu yang kumiliki, meski terkadang kamu dan kalian anggap selera laguku adalah sebuah keanehan. Tetapi, memang aku menyukai lagu-laguku yang melekat dalam diriku yang sangat menghidupi semangat kefeminisan ini. 

Tetapi, lama-kelamaan, aku menyadari bahwa perasaan suka karena suaramu--awalnya--kini berkembang menjadi perasaan yang tidak wajar. Perasaan yang kini berubah menjadi sebuah rasa yang tersimpan diam-diam. Aku juga tidak menyadari bahwa perasaan ini berubah cinta. Berubah menjadi ingin menyentuh setiap ujung jemarimu. Menyentuh setiap jengkal kulitmu. Tidak kusadari itu, memang. Tetapi apalah daya? Aku tidak kuasa membendung perasaan ini.

Namun, semua berubah ketakutan. Ketakutan yang menguasai. Ketakutan yang kini membuatku berpikir bahwa niatku pasti berbuah restu yang ditolak. 

Aku sadar, aku harus berhenti.

Dari aku,
yang ingin menggenggam rasamu.

Selasa, 10 Februari 2015

Senyum Itu

Untuk dia,
si pemilik senyum termanis.

Aku tidak akan menyangka bahwa kamu masih akan tersenyum setulus itu untukku saat menungguku selesai kerja kelompok. Ya, setulus itu. Setulus kata-katamu di waktu itu, saat kami makan es krim berdua di kafe, bahwa ia akan merelakan pundaknya untuk bersandar, bahkan untuk menangis sekalipun. Aku juga tidak akan menyangka bahwa kamu masih mau menungguku untuk beberapa saat, ketika aku bersama teman-temanku berkumpul. Aku tahu, kamu pasti bosan menungguku membicarakan tetek-bengek yang tidak perlu. Tetapi, kamu malah dengan santainya menonton koleksi drama seri Korea favoritnya di layar laptopmu sambil sesekali tersenyum memperhatikanku.

Aku tidak akan menyangka bahwa kamu masih akan tersenyum jahil setelah ia diam-diam mencoret-coret diktat milikku diam-diam saat dosen kami menjelaskan hal itu. Ketika aku ingin membalas dan hasrat tanganku yang ingin menjawil pipinya semakin menggebu-gebu, seketika mantra itu keluar. Seuntai senyum tulus dan tawa yang manis itu. Yang membalut setiap sisi perasaan yang awalnya kesal karena terganggu. Yang seakan membisikkan maaf kepadaku dan aku memberinya maaf begitu saja. Hingga maafkulah yang membuat kami saling tersenyum kembali.

Aku juga tidak akan menyangka bahwa kamu akan mengekspresikan perasaan terpanamu dengan senyum itu. Saat aku masih di pagar pembatas kos-kosan dengan memakai baju putih dengan celana ala-ala Hawaii. Hei, kamu, apakah kamu terpana denganku karena aku tampak begitu memesona dengan pakaian sederhana itu? Kamu terlalu berlebihan, memang. Tetapi, siapa yang tidak suka dipuji? Apalagi orang sepertiku. Yang mudah memerah malu meski hanya dengan sedikit kata-kata yang keluar dari bibirmu itu.

Aku juga tidak akan menyangka bahwa kita akan sedekat ini. Seintim ini. Saling menatap, saling berbagi rahasia. Ya, kata sahabatku, kita ini bukan pencinta, tetapi lebih dari sekadar teman. Lantas, kita ini apa? Dan aku tidak tahu. Tetapi, ketidaktahuan itu yang membuatku nyaman bersamamu. Mungkin, kamu juga merasakan itu. Apakah dalam ketidaktahuan itu kita sama-sama menyelami apa yang kita rasakan? Apakah dalam kedekatan yang semakin lama semakin menerobos rambu-rambu yang ada ini membuat kamu betah denganku? Jujur, aku lelah. Tetapi, kelelahan ini amat menyenangkan. Apalagi jika aku membagi setengahnya denganmu.

Dan semua karena kamu.

Dari aku,
yang terlalu nyaman
menghabiskan ketidakpastian ini,
bersamamu.