Kini, aku berjalan menuju sebuah tempat, di mana aku menyimpan sesuatu yang bernama 'janji'. Janji yang dulu sempat kuutarakan kepadamu, mengingat dahulu aku masih bersama. Tetapi, kala aku harus berkaca akan masa sekarang, aku mengetahui bahwa kini hatiku terbagi. Apakah aku harus tetap kembali melunasi janjiku terhadapmu, atau justru aku harus pergi meninggalkanmu dengan sebuah janji yang sebenarnya kusimpan dalam hatiku sendiri?
Kau pernah mengatakan padaku bahwa janji adalah sebuah utang yang harus ditepati. Dan kau menggaungkan kembali janji yang selalu kugembar-gemborkan dalam nada yang kekanak-kanakan itu, "Di hatiku cuma ada kamu." Tetapi, apakah itu justru memberikan sebuah 'ya' pada akhirnya untuk aku katakan sebagai pelunas janjiku sendiri ketika pada akhirnya kita harus berakhir nantinya? Dan aku meragukan janjiku sendiri.
Empunya Semesta Nan Agung, aku meragu akan bibirku sendiri. Apakah aku harus menepati janjiku sendiri bahwa aku akan tetap kembali padanya meski aku harus membuat luka yang sudah lama kutambal kembali mengeluarkan nanah dan berdarah? Aku mengetahui betapa sakitnya aku diprioritaskan di nomor dua, meski aku bahagia telah menjadi yang kedua. Tetapi, apakah dengan menepati janjiku itu, aku akan berubah menjadi seorang perompak keji yang akan kembali merenggut manisnya cinta?
Ini semua salahku. Karena telah menjadi yang kedua.
Minggu, 12 April 2015
Minggu, 29 Maret 2015
Terbang Pulang
Biarkan aku mengepakkan sayap-sayap ini bersamamu.
Karena aku sudah merelakan rasa-rasa yang lelah dan lerah ini.
Meski bodohnya itu kupendam,
aku bersumpah aku akan mengembalikanmu.
Aku tahu kamu.
Bisa seenaknya saja hinggap ke sarang yang satu,
ke sarang yang lain. Bercinta dengan aku di sana,
hingga cinta kita berbuah manis.
Tetapi biarlah aku kini mengantarmu.
Kembali.
Kepadanya.
Dan aku akan setia mengantarmu kembali kepadanya,
kasihmu. Yang dulu. Selalu.
*judul diambil dari lagu Khadijah Ibrahim - "Terbang Pulang"
Karena aku sudah merelakan rasa-rasa yang lelah dan lerah ini.
Meski bodohnya itu kupendam,
aku bersumpah aku akan mengembalikanmu.
Aku tahu kamu.
Bisa seenaknya saja hinggap ke sarang yang satu,
ke sarang yang lain. Bercinta dengan aku di sana,
hingga cinta kita berbuah manis.
Tetapi biarlah aku kini mengantarmu.
Kembali.
Kepadanya.
Dan aku akan setia mengantarmu kembali kepadanya,
kasihmu. Yang dulu. Selalu.
*judul diambil dari lagu Khadijah Ibrahim - "Terbang Pulang"
Selasa, 24 Maret 2015
Diselubung Dinginnya Sejarah Hati
Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya sejarah adalah kaca. Kaca yang akan membuat aku memikirkan kembali apa yang sebenarnya berlaku. Kaca yang akan membuat kamu memikirkan kembali keputusanmu. Lebih tepatnya kemerdekaanmu setelah aku tiada.
Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya adalah riak-riak bening yang memantulkan bayangan kita. Aku tidak sanggup melihat riak-riak itu. Dan, aku baru sadar kalau riak-riak itu punya sisi ngeri dan nyeri. Membuat lukaku berdarah. Membuat kamu semakin merdeka atas keputusanmu.
Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Biarkan impian itu pergi.
Impian untuk kembali padamu.
Toh, untuk apalagi,
mengharapkan yang tak bisa bersatu?
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya sejarah adalah kaca. Kaca yang akan membuat aku memikirkan kembali apa yang sebenarnya berlaku. Kaca yang akan membuat kamu memikirkan kembali keputusanmu. Lebih tepatnya kemerdekaanmu setelah aku tiada.
Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya adalah riak-riak bening yang memantulkan bayangan kita. Aku tidak sanggup melihat riak-riak itu. Dan, aku baru sadar kalau riak-riak itu punya sisi ngeri dan nyeri. Membuat lukaku berdarah. Membuat kamu semakin merdeka atas keputusanmu.
Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Biarkan impian itu pergi.
Impian untuk kembali padamu.
Toh, untuk apalagi,
mengharapkan yang tak bisa bersatu?
Minggu, 22 Maret 2015
Kebodohanku
Hari sudah malam, Tampanku. Tetapi, aku ingin mengatakan ini, sebelum aku lelap dalam gelapnya malam.
Apakah selama ini kamu menyadari bahwa aku rindu setiap jengkal kehadiranmu, meski itu hanya dalam mimpi? Memang, kata orang kau terlalu sempurna untukku. Kau terlalu sempurna untuk menjadi seorang Pangeran yang akan membangunkan Putri Tidur ini dari tidurnya yang amat panjang--pencarian akan cinta sejati yang amat melelahkan! Tetapi, aku tidak ingin menghiraukan apa yang mereka katakan tentangmu.
Aku memang terlalu bodoh untuk memendam perasaan untuk orang yang terlalu sempurna seperti dirimu. Memang, pada awalnya aku tidak memedulikan apa yang mereka katakan. Aku yang terlalu sering menaruh harap padamu. Aku yang terlalu mengharapkan hal-hal yang besar. Aku yang memang terlalu indah kala memimpikanmu. Aku yang terlalu bersemangat bersaing dengan kenyataan bahwa aku harus mengalah.
Ketika aku melihatmu bersama pesaingku, aku merasakan bahwa aku harus memanggil seseorang untuk (setidaknya) mencubit atau memukulku. Agar aku tahu kalau ini bukan mimpi. Ya, aku merasa bodoh dan kalah. Mengawang dalam kekalahan. Membuka dan membuat luka lama ini menganga dan berdarah--kenyataan bahwa aku tidak akan mendapatkan seorang Pangeran Berkuda Putih yang akan menjemputku.
Aku merasa kalah,
dan aku merasa bodoh, Tampanku.
Apakah selama ini kamu menyadari bahwa aku rindu setiap jengkal kehadiranmu, meski itu hanya dalam mimpi? Memang, kata orang kau terlalu sempurna untukku. Kau terlalu sempurna untuk menjadi seorang Pangeran yang akan membangunkan Putri Tidur ini dari tidurnya yang amat panjang--pencarian akan cinta sejati yang amat melelahkan! Tetapi, aku tidak ingin menghiraukan apa yang mereka katakan tentangmu.
Aku memang terlalu bodoh untuk memendam perasaan untuk orang yang terlalu sempurna seperti dirimu. Memang, pada awalnya aku tidak memedulikan apa yang mereka katakan. Aku yang terlalu sering menaruh harap padamu. Aku yang terlalu mengharapkan hal-hal yang besar. Aku yang memang terlalu indah kala memimpikanmu. Aku yang terlalu bersemangat bersaing dengan kenyataan bahwa aku harus mengalah.
Ketika aku melihatmu bersama pesaingku, aku merasakan bahwa aku harus memanggil seseorang untuk (setidaknya) mencubit atau memukulku. Agar aku tahu kalau ini bukan mimpi. Ya, aku merasa bodoh dan kalah. Mengawang dalam kekalahan. Membuka dan membuat luka lama ini menganga dan berdarah--kenyataan bahwa aku tidak akan mendapatkan seorang Pangeran Berkuda Putih yang akan menjemputku.
Aku merasa kalah,
dan aku merasa bodoh, Tampanku.
Rabu, 18 Maret 2015
Penjara
Hujan ini indah, Tampanku. Namun, aku sedih karenanya.
Hujan ini tampak lebih seperti penjara untukku--maksudku, penjara basah. Aku takut kebasahan karenanya. Aku takut jika aku keluar, aku akan kuyup. Dan akan kuterima omelanmu lewat telepon. Tetapi, aku memang membenci parasmu yang membuatku setiap hari ingin pergi. Membelitku sehingga aku ingin bertemu.
Dan aku terpenjara dalam hujan sehingga hujan membelitku dalam perasaan yang dinamakan sengsara. Aku bermimpi bahwa kau menyelamatkanku, Tampanku. Menyelamatkanku dan membebaskanku dari kungkungan yang membuatku sengsara. Nelangsa. Tak terkata.
Selamatkan aku, Tampanku.
Selamatkan aku.
Selasa, 17 Maret 2015
Lelapku
Aku lelah, Tampanku.
Mari kita berpisah sejenak dari rutinitas yang melelahkan ini. Karena malam telah menjelang dan juga, memang, aku lelah.
Inginku, aku rebah di dadamu yang bidang itu dan menenggelamkan semua kekesalan yang kudapat seharian ini. Aku begitu lelah dengan semua rutinitas yang memuakkan. Dan bumi menimpakannya padaku. Benar, aku ingin lelap dalammu.
Kau memelukku, Erat. Membelai rambutku mesra. Di kamar kita.
"Kalau kamu nggak pernah merasakan lelah, tandanya kamu bukan manusia," katamu kemudian sambil mengecup keningku dan membelai rambutku penuh sayang. Dan kau mencoba terjaga sementara aku kelelahan.
Dan dalam tidurku, aku tersenyum. :)
Minggu, 15 Maret 2015
Mentari
Selamat pagi, Tampanku.
Mari kita rayakan pagi kita ini dengan berlari di sekitar Selasar Kartini hingga Lapangan Pancasila dengan ber-jogging. Memang, dingin tidak pernah absen dari kota di lereng Merbabu ini, Tampanku. Jangan lupakan jaketmu. Aku tidak mau kau sibuk menggigil kedinginan saat kita berlari. Terdengar mengatur? Ingat, kita berjanji untuk saling menegur dan mengingatkan akan banyak hal, bukan? Kita harus saling terbuka. Menyimpan perasaan hanya akan membuatmu sengsara dan tersiksa sendiri. Jadi, jujurlah terhadap dirimu sendiri--itu yang kulakukan, Tampanku.
Kau memakai jaketmu dan sepatu kets mu. Tak lupa pakaian basket yang memotret seluruh lekuk yang ada di tubuhmu. Hei, tahukah? Sedari dulu, (setelah pribadimu itu, tentu!) aku begitu menyukai keatletisanmu yang terpahat sempurna. Terbayang sudah di mana tempat yang tepat untuk menenggelamkan tangisku--dadamu yang bidang dan tempat untuk bersandar kala aku lelah meski kau juga harus mendengarkan amarahku--pundakmu yang lapang. Ayo, kita berlari.
Aku terengah-engah, Tampanku.
Tapi, aku tidak mungkin memaksakan diriku untuk terus berlari. Mari kita duduk. Bodoh, aku tidak membawa air. Namun, selalu saja kau tahu apa yang kubutuhkan. Kutenggak air dari botol minummu itu. Dan dahagaku terpuaskan sedikit demi sedikit. Dan kau meledekku, "Sudah? Semangat amat minumnya?" Aku langsung menjawil perutmu manja dan kita bersama tertawa. Dan, sepertinya kita telah menerbitkan mentari sendiri dengan kesederhanaan kita hari ini.
Benar, kan, Tampanku? Kau pernah berkata bahwa kesederhanaan adalah sebuah kekuatan. Termasuk pagi ini. Kita tak perlu bersaing dengan dinginnya pagi untuk menerbitkan mentari. Hanya, kita perlu untuk membuat hati kita secerah mentari.
Ah, sekali lagi kau tahu bagaimana membuatku kepayang. Dan pagi ini, aku menerima kecup di pipiku yang masih berkeringat.
Pagi ini, aku merasa seperti yang terbahagia di dunia :)
Mari kita rayakan pagi kita ini dengan berlari di sekitar Selasar Kartini hingga Lapangan Pancasila dengan ber-jogging. Memang, dingin tidak pernah absen dari kota di lereng Merbabu ini, Tampanku. Jangan lupakan jaketmu. Aku tidak mau kau sibuk menggigil kedinginan saat kita berlari. Terdengar mengatur? Ingat, kita berjanji untuk saling menegur dan mengingatkan akan banyak hal, bukan? Kita harus saling terbuka. Menyimpan perasaan hanya akan membuatmu sengsara dan tersiksa sendiri. Jadi, jujurlah terhadap dirimu sendiri--itu yang kulakukan, Tampanku.
Kau memakai jaketmu dan sepatu kets mu. Tak lupa pakaian basket yang memotret seluruh lekuk yang ada di tubuhmu. Hei, tahukah? Sedari dulu, (setelah pribadimu itu, tentu!) aku begitu menyukai keatletisanmu yang terpahat sempurna. Terbayang sudah di mana tempat yang tepat untuk menenggelamkan tangisku--dadamu yang bidang dan tempat untuk bersandar kala aku lelah meski kau juga harus mendengarkan amarahku--pundakmu yang lapang. Ayo, kita berlari.
Aku terengah-engah, Tampanku.
Tapi, aku tidak mungkin memaksakan diriku untuk terus berlari. Mari kita duduk. Bodoh, aku tidak membawa air. Namun, selalu saja kau tahu apa yang kubutuhkan. Kutenggak air dari botol minummu itu. Dan dahagaku terpuaskan sedikit demi sedikit. Dan kau meledekku, "Sudah? Semangat amat minumnya?" Aku langsung menjawil perutmu manja dan kita bersama tertawa. Dan, sepertinya kita telah menerbitkan mentari sendiri dengan kesederhanaan kita hari ini.
Benar, kan, Tampanku? Kau pernah berkata bahwa kesederhanaan adalah sebuah kekuatan. Termasuk pagi ini. Kita tak perlu bersaing dengan dinginnya pagi untuk menerbitkan mentari. Hanya, kita perlu untuk membuat hati kita secerah mentari.
Ah, sekali lagi kau tahu bagaimana membuatku kepayang. Dan pagi ini, aku menerima kecup di pipiku yang masih berkeringat.
Pagi ini, aku merasa seperti yang terbahagia di dunia :)
Sabtu, 14 Maret 2015
Pelangi Petang-ku
Selamat petang, Tampanku.
Sore ini, aku ingin pergi ke sebuah tempat, di mana aku bisa menghabiskan waktu kita berdua. Berdua saja. Kau tidak keberatan, kan, Tampanku? Jika kau mau, datanglah ke kamarku--kamar kita, maksudku--pada pukul empat sore. Ingin kuhabiskan waktuku dengan duduk berdua sambil meminum milkshake cokelat.
Tampanku, tidakkah kau tahu bahwa menghabiskan waktu dalam menyaingi gagahnya petang adalah menyenangkan? Dengan tawa kita, dengan hal-hal gila yang kita lakukan bersama. Pergi menyusuri Lapangan Pancasila di kala sore sambil membincangkan kita. Pergi makan di sebuah restoran kaki lima di lapangan itu sambil bercengkerama bersamamu. Ah, indahnya, Tampanku. Kau selalu tahu bagaimana caranya membuatku mabuk.
Sore itu, aku jadi teringat salah satu lagu klasik yang kini didendangkan oleh artis favoritku: Dekatlah Padaku. Lagu itu mengingatkanku akanmu. Baitnya jelas menggambarkan setiap jengkal kemesraan kita. Hingga malam menjelang. Lembutnya jemariku digenggam gagahnya jemarimu, seakan meyakinkan kalau kamulah tempatku berteduh. Tetapi, kau bilang berteduh bukan berarti cengeng, kan?
Dan, kurasa pelangi tercipta di sore ini. Pelangi di hatiku. Karena kamu.
Sore ini, aku ingin pergi ke sebuah tempat, di mana aku bisa menghabiskan waktu kita berdua. Berdua saja. Kau tidak keberatan, kan, Tampanku? Jika kau mau, datanglah ke kamarku--kamar kita, maksudku--pada pukul empat sore. Ingin kuhabiskan waktuku dengan duduk berdua sambil meminum milkshake cokelat.
Tampanku, tidakkah kau tahu bahwa menghabiskan waktu dalam menyaingi gagahnya petang adalah menyenangkan? Dengan tawa kita, dengan hal-hal gila yang kita lakukan bersama. Pergi menyusuri Lapangan Pancasila di kala sore sambil membincangkan kita. Pergi makan di sebuah restoran kaki lima di lapangan itu sambil bercengkerama bersamamu. Ah, indahnya, Tampanku. Kau selalu tahu bagaimana caranya membuatku mabuk.
Sore itu, aku jadi teringat salah satu lagu klasik yang kini didendangkan oleh artis favoritku: Dekatlah Padaku. Lagu itu mengingatkanku akanmu. Baitnya jelas menggambarkan setiap jengkal kemesraan kita. Hingga malam menjelang. Lembutnya jemariku digenggam gagahnya jemarimu, seakan meyakinkan kalau kamulah tempatku berteduh. Tetapi, kau bilang berteduh bukan berarti cengeng, kan?
Dan, kurasa pelangi tercipta di sore ini. Pelangi di hatiku. Karena kamu.
Gelisah di Dua Pagi
Aku tidak bisa tidur, Tampanku.
Maukah kau datang ke kamarku? Tidaklah sulit untuk keluar dari rumahmu, menaiki motormu, dan mengajakku berkeliling menikmati kota kecil ini. Tiba-tiba, aku merasa bahwa aku ingin menikmati subuh di Tamansari. Menikmati dinginnya kota kecil di bawah Merbabu ini bersamamu. Dengan semangkuk Indomie goreng favoritku dan tak lupa... segelas bandrek--makanan kita.
Tiba-tiba, kau telah ada di hadapanku. Berjaket kulit hitam dan bercelana jins. Tak lupa, kacamata bertangkai merahmu yang selalu kurindu setiap kau datang. Dengan begitu girangnya aku duduk di jok motormu, lalu berangkat berdua ke sana. Ke sebuah tempat makan kecil yang buka sebagai teman untuk bersubuh ria. Dan ku hangatkan badanku dengan memeluk badanmu yang tinggi nan tegap itu.
Dan dengan jenakamu kau hangatkan aku. Tawamu, setiap jengkal senyummu, dan bias wajahmu... adalah candu buatku yang seumpama tambang yang mengikatku. Tapi tambang imajiner ini adalah dirimu yang tak bisa melepaskan aku. Meski terkadang, memikirkan bagaimana cara melepaskannya sendiri adalah derita.
Hingga aku telah menemukan kantukku. Mengajakku pulang, kau lakukan. Dan kau biarkan aku tidur di punggungmu nan tegap itu. Membaringkanku. Hingga mengecup sambil berkata selamat tidur. Hangat kurasa. Membuncah hatiku. Selalu.
Dan takkan pernah berhenti.
Maukah kau datang ke kamarku? Tidaklah sulit untuk keluar dari rumahmu, menaiki motormu, dan mengajakku berkeliling menikmati kota kecil ini. Tiba-tiba, aku merasa bahwa aku ingin menikmati subuh di Tamansari. Menikmati dinginnya kota kecil di bawah Merbabu ini bersamamu. Dengan semangkuk Indomie goreng favoritku dan tak lupa... segelas bandrek--makanan kita.
Tiba-tiba, kau telah ada di hadapanku. Berjaket kulit hitam dan bercelana jins. Tak lupa, kacamata bertangkai merahmu yang selalu kurindu setiap kau datang. Dengan begitu girangnya aku duduk di jok motormu, lalu berangkat berdua ke sana. Ke sebuah tempat makan kecil yang buka sebagai teman untuk bersubuh ria. Dan ku hangatkan badanku dengan memeluk badanmu yang tinggi nan tegap itu.
Dan dengan jenakamu kau hangatkan aku. Tawamu, setiap jengkal senyummu, dan bias wajahmu... adalah candu buatku yang seumpama tambang yang mengikatku. Tapi tambang imajiner ini adalah dirimu yang tak bisa melepaskan aku. Meski terkadang, memikirkan bagaimana cara melepaskannya sendiri adalah derita.
Hingga aku telah menemukan kantukku. Mengajakku pulang, kau lakukan. Dan kau biarkan aku tidur di punggungmu nan tegap itu. Membaringkanku. Hingga mengecup sambil berkata selamat tidur. Hangat kurasa. Membuncah hatiku. Selalu.
Dan takkan pernah berhenti.
Membenci Rindu
Kau kedinginan, Tampanku?
Sama.
Salatiga hari ini begitu jahat, Tampanku. Ia menurunkan hujan dan meniupkan dinginnya kepada semua orang, di tengah gempitanya mereka yang tengah berhasil menyelesaikan studinya setelah berperang dan bertahan dengan begitu gagah di universitas yang sama-sama kita cinta ini. Aku bukan mengatakan sesuatu yang aneh, Tampanku. Tapi, aku merasakan kejahatan yang diberikan hujan dan dingin di kota ini. Diberikannya sebuah perasaan klise yang disebut rindu.
Rindu memang sesuatu yang aneh setiap kumasuki Sabtu malam. Hari keramat bagi para pemuda. Entah itu mereka yang saling mencintai, atau mereka yang masih sendiri. Termasuk aku. Entah apa yang ada di perasaanku ini, tetapi perasaan klise itu selalu memelukku dengan begitu eratnya! Aku benci. Ya, aku memang benci akan hal yang disebut rindu. Jika tidak ada yang namanya benci merindu, pasti tidak akan lahir lagu-lagu seperti Jiwa Tersiksa Menahan Rindu. Lebih jauh lagi, Badai Kerispatih pun tidak akan pernah menciptakan Lagu Rindu jika ia tidak merasakan perasaan yang sama.
Ah, Tampanku. Cobalah kau jawab dua pertanyaan ini. Mengapa perasaan rindu itu harus ada? Dan, kalau perasaan rindu itu ada, kenapa aku harus merasakan rindu itu...
...dan menaruhnya padamu?
Sama.
Salatiga hari ini begitu jahat, Tampanku. Ia menurunkan hujan dan meniupkan dinginnya kepada semua orang, di tengah gempitanya mereka yang tengah berhasil menyelesaikan studinya setelah berperang dan bertahan dengan begitu gagah di universitas yang sama-sama kita cinta ini. Aku bukan mengatakan sesuatu yang aneh, Tampanku. Tapi, aku merasakan kejahatan yang diberikan hujan dan dingin di kota ini. Diberikannya sebuah perasaan klise yang disebut rindu.
Rindu memang sesuatu yang aneh setiap kumasuki Sabtu malam. Hari keramat bagi para pemuda. Entah itu mereka yang saling mencintai, atau mereka yang masih sendiri. Termasuk aku. Entah apa yang ada di perasaanku ini, tetapi perasaan klise itu selalu memelukku dengan begitu eratnya! Aku benci. Ya, aku memang benci akan hal yang disebut rindu. Jika tidak ada yang namanya benci merindu, pasti tidak akan lahir lagu-lagu seperti Jiwa Tersiksa Menahan Rindu. Lebih jauh lagi, Badai Kerispatih pun tidak akan pernah menciptakan Lagu Rindu jika ia tidak merasakan perasaan yang sama.
Ah, Tampanku. Cobalah kau jawab dua pertanyaan ini. Mengapa perasaan rindu itu harus ada? Dan, kalau perasaan rindu itu ada, kenapa aku harus merasakan rindu itu...
...dan menaruhnya padamu?
Kamis, 12 Maret 2015
Mimpi
Untunglah, beberapa mimpi hanya patut untuk dimimpikan.
Tidakkah kau sadari?
Kala kau dapati kau tidak akan pernah bisa menyentuh mimpi itu,
kau akan mengumpamakannya seperti daun yang diterbangkan angin.
Tak berarah.
Tidakkah itu mampir dalam benakmu?
Tidakkah kau sadari?
Kala kau dapati kau tidak akan pernah bisa menyentuh mimpi itu,
kau akan mengumpamakannya seperti daun yang diterbangkan angin.
Tak berarah.
Tidakkah itu mampir dalam benakmu?
Rabu, 11 Maret 2015
Netral
Untuk kamu,
yang kini digenggamnya.
Mentari sudah meninggi, Tampanku.
Bangunlah. Tidak baik seorang lelaki tidur terus-terusan dalam kamar dalam waktu yang lama, meski kamu tidur dalam peluknya. Ah, kamu tidak perlu mengelak. Cukup ceritakan padaku apa yang terjadi dalam mimpimu semalam. Bukankah mimpi seseorang yang kini sudah menemukan pelabuhannya adalah indah? Tampanku, kamu tidak perlu malu untuk mengungkapkan impianmu semalam. Karena segalanya sudah netral.
Karena semuanya sudah netral, aku hanya ingin mengunjungimu. Tapi, perasaanku berbicara bahwa aku tidak bisa berhenti ingin mengunjungi hatimu. Meski pesimisnya hati berbicara bahwa kau tidak akan pernah mau membuka sedikit celah untuk aku masuk. Kini, aku hanya tamu-sambil-lalu. Bukan orang-yang-pernah-singgah di dalam hatimu.
Bangunlah, Tampanku. Carilah dia yang kini menjadi penyemangat harimu. Jangan kau tengok aku. Namun, jangan segan datang padaku, bila kau tertatih kelelahan.
Dari aku,
yang masih untukmu.
Selasa, 10 Maret 2015
Bisu
Suatu hari, kudapati bibirku dikutuk.
Dikutuk oleh sebuah kekuatan yang tak ku kenali.
Tetapi, aku tidak dikutuk seorang penyihir.
Aku dikutuk oleh dia yang ketiga.
Setiap rongga bibirku membisu,
bak Ratu Salju yang mengembuskan napasnya padaku,
membekukan setiap sisi bibirku.
Jadilah aku, yang hanya bisa melenguh malu.
Berharap ada penawar untukku.
Agar aku bisa bangkitkan diriku,
membalas kekejamannya padaku,
agar dia berteriak meminta ampun padaku.
Meski nyatanya,
aku akan membuat dia beku.
Membisu.
Layaknya aku.
10-03-2015/17.46
Dikutuk oleh sebuah kekuatan yang tak ku kenali.
Tetapi, aku tidak dikutuk seorang penyihir.
Aku dikutuk oleh dia yang ketiga.
Setiap rongga bibirku membisu,
bak Ratu Salju yang mengembuskan napasnya padaku,
membekukan setiap sisi bibirku.
Jadilah aku, yang hanya bisa melenguh malu.
Berharap ada penawar untukku.
Agar aku bisa bangkitkan diriku,
membalas kekejamannya padaku,
agar dia berteriak meminta ampun padaku.
Meski nyatanya,
aku akan membuat dia beku.
Membisu.
Layaknya aku.
10-03-2015/17.46
Senin, 09 Maret 2015
Petikmu
Selamat malam, Tampanku.
Tidak mungkin aku melupakan wajahmu dulu sejak aku masih tampak kinyis. Sejak aku masih belum bisa menempatkan diri dengan baik karena aku masih berpikiran bahwa aku adalah makhluk yang ingin lagi memakai seragam putih abu-abu. Makhluk yang ingin lagi menjadi gila karena mulai tidak tahan akan segala situasi sialan yang dinamakan perkuliahan.
Saat itu, hasrat untuk memberimu senyumku yang tidak seberapa selalu membendung hari-hariku. Senyum yang ingin kuberikan, semanis atau seaneh apapun itu, untukmu. Apalagi saat kau memetik gitar dengan lagu-lagu klasik itu.
Dan, Tampanku, malam ini aku merindukan petik-petikmu. Aku merindukan semua petikmu, senyummu, bahkan ketika kau menatapku aneh ketika melihat dan mengetahui perasaan apa yang kurasakan. Memang, Tampanku. Aku tidak punya malu. Ah, seandainya aku menjadi seorang perempuan, aku akan memilikimu, seutuhnya. Ya, seutuhnya, Tampanku.
Tapi, Tampanku, biarlah aku merindu akan petik gitarmu dulu. Un Dia de Novembre itu.
Mimpi indah, Tampanku.
Dari aku,
yang hanya ingin mendengarmu
bersenandung lewat senar-senar itu.
Minggu, 08 Maret 2015
Bodo Amat!
Mau kamu meminta aku untuk bersamamu sepanjang segala abad, aku tidak akan pernah mau menggubris pintamu. Meski kau memanjatkan dan menaruh pintamu setinggi bintang, aku tidak akan pernah memetik bintangmu dan menyimpannya dalam sanubariku. Bisakah kamu membayangkan bahwa hatiku sudah penuh dengan perasaan-perasaan yang (sayangnya) penuh dengan maki dan caci untukmu? Penuh, Sayang. Ya, penuh!
Inginku, kau pergi dari pandanganku. Segera. Secepatnya. Tidak perlu menunda. Ya, segera. Ya, secepatnya. Ya, tidak perlu menunda. Oh, ya, segera. Oh, ya, secepatnya. Oh, ya, tidak perlu menunda. Jangan pernah kau menginjak sudut hatiku atau sudut benakku. Lagi. Jangan pernah, Sayang.
Karena aku ingin mengajarimu memahami perasaanku, dan apa yang ingin ku luahkan saat ini.
Bodo amat.
Inginku, kau pergi dari pandanganku. Segera. Secepatnya. Tidak perlu menunda. Ya, segera. Ya, secepatnya. Ya, tidak perlu menunda. Oh, ya, segera. Oh, ya, secepatnya. Oh, ya, tidak perlu menunda. Jangan pernah kau menginjak sudut hatiku atau sudut benakku. Lagi. Jangan pernah, Sayang.
Karena aku ingin mengajarimu memahami perasaanku, dan apa yang ingin ku luahkan saat ini.
Bodo amat.
Sabtu, 07 Maret 2015
Terima Kasih
Untuk kamu,
si kaus biru.
Baiklah. Terima kasih atas sakit yang kamu beri. Terima kasih atas setiap mimpi yang cuma mimpi ini. Terima kasih pula atas suaramu. Terima kasih atas nyanyian dan musikmu yang indah. Terima kasih atas parasmu yang mematikan. Ya, terima kasih untuk semuanya, Tampanku. Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan. Memori, tawa, rindu yang terpendam, atau apa pun itu.
Terima kasih atas bayanganmu yang tak rewel. Karena ke sanalah aku mendekatkan diri. Meski, dalam nyata, aku menemukan kau tak memberikan setetes simpati kepadaku. Terima kasih atas setiap fotomu yang tersenyum kepadaku jika aku tersiksa menahan rindu ini. Terima kasih atas suara yang setiap hari boleh kudengar meski aku tidak menginginkannya. Terima kasih atas undangan bernyanyi berdua yang setiap Sabtu kuterima, meski sebenarnya aku tak tahan menahan siksa ketika menatap wajahmu. Siksa itu adalah siksa yang membuatku dihakimi. Siksa karena memendam perasaan pada orang yang menjalani kodrat dengan seharusnya.
Dan, satu hal. Terima kasih atas tangis yang kau hadiahkan di Sabtu malam ini. Dan, aku harus tegar melihat jemarimu menggenggam jemarinya. Oh, aku merindukan jemari kekar itu, Tampanku. Dengan wanita yang kau pilih. Dengan wanita yang (mungkin) nantinya akan bersanding denganmu. Dengan wanita yang kau ingin ajak menua bersamamu. Ah, Tuhan. Kuatkan Hamba-Mu yang berdosa ini.
Sekali lagi, terima kasih.
Dari aku,
yang tak bisa membendung air matanya
di Sabtu malam ini.
si kaus biru.
Baiklah. Terima kasih atas sakit yang kamu beri. Terima kasih atas setiap mimpi yang cuma mimpi ini. Terima kasih pula atas suaramu. Terima kasih atas nyanyian dan musikmu yang indah. Terima kasih atas parasmu yang mematikan. Ya, terima kasih untuk semuanya, Tampanku. Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan. Memori, tawa, rindu yang terpendam, atau apa pun itu.
Terima kasih atas bayanganmu yang tak rewel. Karena ke sanalah aku mendekatkan diri. Meski, dalam nyata, aku menemukan kau tak memberikan setetes simpati kepadaku. Terima kasih atas setiap fotomu yang tersenyum kepadaku jika aku tersiksa menahan rindu ini. Terima kasih atas suara yang setiap hari boleh kudengar meski aku tidak menginginkannya. Terima kasih atas undangan bernyanyi berdua yang setiap Sabtu kuterima, meski sebenarnya aku tak tahan menahan siksa ketika menatap wajahmu. Siksa itu adalah siksa yang membuatku dihakimi. Siksa karena memendam perasaan pada orang yang menjalani kodrat dengan seharusnya.
Dan, satu hal. Terima kasih atas tangis yang kau hadiahkan di Sabtu malam ini. Dan, aku harus tegar melihat jemarimu menggenggam jemarinya. Oh, aku merindukan jemari kekar itu, Tampanku. Dengan wanita yang kau pilih. Dengan wanita yang (mungkin) nantinya akan bersanding denganmu. Dengan wanita yang kau ingin ajak menua bersamamu. Ah, Tuhan. Kuatkan Hamba-Mu yang berdosa ini.
Sekali lagi, terima kasih.
Dari aku,
yang tak bisa membendung air matanya
di Sabtu malam ini.
Senin, 16 Februari 2015
Di Ruang Tunggu Ini
Mungkin, kita memang tidak selamanya bisa untuk menjadi sepasang. Bahkan, menyentuh jemarimu saja adalah sebuah ketidakmungkinan. Kamu, yang kini membuncah di hari dan hatiku, dengan teganya mengundang dilema di dalam hatiku. Pertanyaan terbesarku saat ini adalah: direstuikah niatku ini?
Melihatmu setiap saat dengan lantunan suara kasar tetapi seksi itu adalah sebuah penawar rindu buatku. Setiap Sabtu, minggu ke-2, aku selalu menunggu-nunggu saat itu. Saat di mana akhirnya aku bisa bercanda, setidaknya berpapasan denganmu. Setelah berpapasan, aku akan bernyanyi bersamamu dengan lagu-lagu yang kumiliki, meski terkadang kamu dan kalian anggap selera laguku adalah sebuah keanehan. Tetapi, memang aku menyukai lagu-laguku yang melekat dalam diriku yang sangat menghidupi semangat kefeminisan ini.
Tetapi, lama-kelamaan, aku menyadari bahwa perasaan suka karena suaramu--awalnya--kini berkembang menjadi perasaan yang tidak wajar. Perasaan yang kini berubah menjadi sebuah rasa yang tersimpan diam-diam. Aku juga tidak menyadari bahwa perasaan ini berubah cinta. Berubah menjadi ingin menyentuh setiap ujung jemarimu. Menyentuh setiap jengkal kulitmu. Tidak kusadari itu, memang. Tetapi apalah daya? Aku tidak kuasa membendung perasaan ini.
Namun, semua berubah ketakutan. Ketakutan yang menguasai. Ketakutan yang kini membuatku berpikir bahwa niatku pasti berbuah restu yang ditolak.
Aku sadar, aku harus berhenti.
Dari aku,
yang ingin menggenggam rasamu.
Selasa, 10 Februari 2015
Senyum Itu
Untuk dia,
si pemilik senyum termanis.
Aku tidak akan menyangka bahwa kamu masih akan tersenyum setulus itu untukku saat menungguku selesai kerja kelompok. Ya, setulus itu. Setulus kata-katamu di waktu itu, saat kami makan es krim berdua di kafe, bahwa ia akan merelakan pundaknya untuk bersandar, bahkan untuk menangis sekalipun. Aku juga tidak akan menyangka bahwa kamu masih mau menungguku untuk beberapa saat, ketika aku bersama teman-temanku berkumpul. Aku tahu, kamu pasti bosan menungguku membicarakan tetek-bengek yang tidak perlu. Tetapi, kamu malah dengan santainya menonton koleksi drama seri Korea favoritnya di layar laptopmu sambil sesekali tersenyum memperhatikanku.
Aku tidak akan menyangka bahwa kamu masih akan tersenyum jahil setelah ia diam-diam mencoret-coret diktat milikku diam-diam saat dosen kami menjelaskan hal itu. Ketika aku ingin membalas dan hasrat tanganku yang ingin menjawil pipinya semakin menggebu-gebu, seketika mantra itu keluar. Seuntai senyum tulus dan tawa yang manis itu. Yang membalut setiap sisi perasaan yang awalnya kesal karena terganggu. Yang seakan membisikkan maaf kepadaku dan aku memberinya maaf begitu saja. Hingga maafkulah yang membuat kami saling tersenyum kembali.
Aku juga tidak akan menyangka bahwa kamu akan mengekspresikan perasaan terpanamu dengan senyum itu. Saat aku masih di pagar pembatas kos-kosan dengan memakai baju putih dengan celana ala-ala Hawaii. Hei, kamu, apakah kamu terpana denganku karena aku tampak begitu memesona dengan pakaian sederhana itu? Kamu terlalu berlebihan, memang. Tetapi, siapa yang tidak suka dipuji? Apalagi orang sepertiku. Yang mudah memerah malu meski hanya dengan sedikit kata-kata yang keluar dari bibirmu itu.
Aku juga tidak akan menyangka bahwa kita akan sedekat ini. Seintim ini. Saling menatap, saling berbagi rahasia. Ya, kata sahabatku, kita ini bukan pencinta, tetapi lebih dari sekadar teman. Lantas, kita ini apa? Dan aku tidak tahu. Tetapi, ketidaktahuan itu yang membuatku nyaman bersamamu. Mungkin, kamu juga merasakan itu. Apakah dalam ketidaktahuan itu kita sama-sama menyelami apa yang kita rasakan? Apakah dalam kedekatan yang semakin lama semakin menerobos rambu-rambu yang ada ini membuat kamu betah denganku? Jujur, aku lelah. Tetapi, kelelahan ini amat menyenangkan. Apalagi jika aku membagi setengahnya denganmu.
Dan semua karena kamu.
Dari aku,
yang terlalu nyaman
menghabiskan ketidakpastian ini,
bersamamu.
si pemilik senyum termanis.
Aku tidak akan menyangka bahwa kamu masih akan tersenyum setulus itu untukku saat menungguku selesai kerja kelompok. Ya, setulus itu. Setulus kata-katamu di waktu itu, saat kami makan es krim berdua di kafe, bahwa ia akan merelakan pundaknya untuk bersandar, bahkan untuk menangis sekalipun. Aku juga tidak akan menyangka bahwa kamu masih mau menungguku untuk beberapa saat, ketika aku bersama teman-temanku berkumpul. Aku tahu, kamu pasti bosan menungguku membicarakan tetek-bengek yang tidak perlu. Tetapi, kamu malah dengan santainya menonton koleksi drama seri Korea favoritnya di layar laptopmu sambil sesekali tersenyum memperhatikanku.
Aku tidak akan menyangka bahwa kamu masih akan tersenyum jahil setelah ia diam-diam mencoret-coret diktat milikku diam-diam saat dosen kami menjelaskan hal itu. Ketika aku ingin membalas dan hasrat tanganku yang ingin menjawil pipinya semakin menggebu-gebu, seketika mantra itu keluar. Seuntai senyum tulus dan tawa yang manis itu. Yang membalut setiap sisi perasaan yang awalnya kesal karena terganggu. Yang seakan membisikkan maaf kepadaku dan aku memberinya maaf begitu saja. Hingga maafkulah yang membuat kami saling tersenyum kembali.
Aku juga tidak akan menyangka bahwa kamu akan mengekspresikan perasaan terpanamu dengan senyum itu. Saat aku masih di pagar pembatas kos-kosan dengan memakai baju putih dengan celana ala-ala Hawaii. Hei, kamu, apakah kamu terpana denganku karena aku tampak begitu memesona dengan pakaian sederhana itu? Kamu terlalu berlebihan, memang. Tetapi, siapa yang tidak suka dipuji? Apalagi orang sepertiku. Yang mudah memerah malu meski hanya dengan sedikit kata-kata yang keluar dari bibirmu itu.
Aku juga tidak akan menyangka bahwa kita akan sedekat ini. Seintim ini. Saling menatap, saling berbagi rahasia. Ya, kata sahabatku, kita ini bukan pencinta, tetapi lebih dari sekadar teman. Lantas, kita ini apa? Dan aku tidak tahu. Tetapi, ketidaktahuan itu yang membuatku nyaman bersamamu. Mungkin, kamu juga merasakan itu. Apakah dalam ketidaktahuan itu kita sama-sama menyelami apa yang kita rasakan? Apakah dalam kedekatan yang semakin lama semakin menerobos rambu-rambu yang ada ini membuat kamu betah denganku? Jujur, aku lelah. Tetapi, kelelahan ini amat menyenangkan. Apalagi jika aku membagi setengahnya denganmu.
Dan semua karena kamu.
Dari aku,
yang terlalu nyaman
menghabiskan ketidakpastian ini,
bersamamu.
Langganan:
Postingan (Atom)