Suatu hari, kudapati bibirku dikutuk.
Dikutuk oleh sebuah kekuatan yang tak ku kenali.
Tetapi, aku tidak dikutuk seorang penyihir.
Aku dikutuk oleh dia yang ketiga.
Setiap rongga bibirku membisu,
bak Ratu Salju yang mengembuskan napasnya padaku,
membekukan setiap sisi bibirku.
Jadilah aku, yang hanya bisa melenguh malu.
Berharap ada penawar untukku.
Agar aku bisa bangkitkan diriku,
membalas kekejamannya padaku,
agar dia berteriak meminta ampun padaku.
Meski nyatanya,
aku akan membuat dia beku.
Membisu.
Layaknya aku.
10-03-2015/17.46
Tidak ada komentar:
Posting Komentar