Selamat pagi, Tampanku.
Mari kita rayakan pagi kita ini dengan berlari di sekitar Selasar Kartini hingga Lapangan Pancasila dengan ber-jogging. Memang, dingin tidak pernah absen dari kota di lereng Merbabu ini, Tampanku. Jangan lupakan jaketmu. Aku tidak mau kau sibuk menggigil kedinginan saat kita berlari. Terdengar mengatur? Ingat, kita berjanji untuk saling menegur dan mengingatkan akan banyak hal, bukan? Kita harus saling terbuka. Menyimpan perasaan hanya akan membuatmu sengsara dan tersiksa sendiri. Jadi, jujurlah terhadap dirimu sendiri--itu yang kulakukan, Tampanku.
Kau memakai jaketmu dan sepatu kets mu. Tak lupa pakaian basket yang memotret seluruh lekuk yang ada di tubuhmu. Hei, tahukah? Sedari dulu, (setelah pribadimu itu, tentu!) aku begitu menyukai keatletisanmu yang terpahat sempurna. Terbayang sudah di mana tempat yang tepat untuk menenggelamkan tangisku--dadamu yang bidang dan tempat untuk bersandar kala aku lelah meski kau juga harus mendengarkan amarahku--pundakmu yang lapang. Ayo, kita berlari.
Aku terengah-engah, Tampanku.
Tapi, aku tidak mungkin memaksakan diriku untuk terus berlari. Mari kita duduk. Bodoh, aku tidak membawa air. Namun, selalu saja kau tahu apa yang kubutuhkan. Kutenggak air dari botol minummu itu. Dan dahagaku terpuaskan sedikit demi sedikit. Dan kau meledekku, "Sudah? Semangat amat minumnya?" Aku langsung menjawil perutmu manja dan kita bersama tertawa. Dan, sepertinya kita telah menerbitkan mentari sendiri dengan kesederhanaan kita hari ini.
Benar, kan, Tampanku? Kau pernah berkata bahwa kesederhanaan adalah sebuah kekuatan. Termasuk pagi ini. Kita tak perlu bersaing dengan dinginnya pagi untuk menerbitkan mentari. Hanya, kita perlu untuk membuat hati kita secerah mentari.
Ah, sekali lagi kau tahu bagaimana membuatku kepayang. Dan pagi ini, aku menerima kecup di pipiku yang masih berkeringat.
Pagi ini, aku merasa seperti yang terbahagia di dunia :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar