Sabtu, 30 Agustus 2014

Karena

Setiap karenamu adalah sembilu.
Kau menjadikanku asmara yang melarutkanmu
bukan disebabkan tulus dan sanubari
yang berbicara.

Tahukah kau, cintamu belacu.
Aku bukan jatuh dalam setiap helai sutra
di setiap kata-kata dan romansa
yang teruntai.

Mana 'kan belacu dan sutera
boleh bergandeng satu?
Rusak!

Kamis, 28 Agustus 2014

Rasakanlah

Dan rasakanlah tuguku, 
dan luahkanlah setiap rasa
yang bersemadi dan berpendar
meski harus kusibak
ratusan--bahkan ribuan kali!

Tugu-tugu pertahanan ini telah meretak
: terkikis selumbar demi selumbar

karena pahat yang tak tentu arah.
Mencoba mengikis agar mengetahui
rahasia demi rahasia--sampai kambiumku!

Hingga pada saatnya aku retak:
jangan tanya!

Selasa, 26 Agustus 2014

Sepikir

Ketika terbuka kelopak matamu,
apakah terbias pandangan,
bahwa jejak mayapada
bukan sebuah rentang senang
yang akan membawamu
menuju puncak gemilang?

Sepikirkah kita?

Ketika mentari menyibak lentera malam,
apakah tersengat matamu dan terbuka
bahwa rentang dunia penuh cabar menyesakkan?
Penuh kasam, mengotori kalbu
mencoba menutup mistik-Nya yang mencoba bersuara:
tanpa setitikpun kekata!

Sepikirkah kita?

Jangan sesat,
jangan tenggelam dalam gelap!
Jangan berkasam!
Teluskanlah sukma-Nya, kotakan dalam sanubari!

Terinspirasi dari tiga lagu Melayu tradisional
berentak sufi timur tengah:
Nirmala, Satu Ta'akulan, dan Samrah Mentari.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Jeling-Jeling Jahanam

Jeling-jeling itu jelas menaruh kasih, namun mengapa kau jeling-jeling pada gahara yang sudah memiliki pemiliknya--si suri jelita? Jeling-jeling itu lalu berubah menjadi lirikan yang kau pikir sudah cukup membuatnya membuncah dan... ketika kau mendapati ia membalas lirikanmu dan membuat sang permata empunya tahta retak seribu, kau merasa menang. Sesungguhnya, kau kalah.

Jeling-jeling itu jelas mengubah derajatmu. Dari seorang bunga mawar yang memancarkan seri dari setiap kelopak menjadi bunga melati yang hanya dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan: makanan seorang yang ingin mengundang setan, malah! Jadi, apa bedanya kau dengan setan jika kau mengambil kekasih seseorang hanya dari melirik?

Jahanam!

Kamis, 21 Agustus 2014

Walau Seribu Tangis

Walau seribu tangis kau tumpahkan sehingga kau ingin mengubah arah peta agar menuju ke negaramu, kami tidak akan mau. Berhentilah menangis, wahai insan-kuat-namun-kerapuhan. Kami tidak mau kau jerumuskan agar dapat berwisata dan berdiam di negerimu, Negeri Seribu Impi! Karena hanya impi, impi, dan impi yang kami dapatkan. Itu siksa!

Sang Kusir telah menunjukkan jalan menuju Negeri Seribu Mentari yang kami rindui semenjak tindas menerpa dan tandus merajai negeri kami. Kami tak mau amanah diperkosa--bahkan ditindas--tidak menghiraukan teriak yang meriak hingga berkepul menjadi satu! Kami tidak mau negeri kami mengalami ketandusan dalam segala hal--termasuk ketandusan nurani!

Kami akan berdiam di negeri itu, bersama Sang Batara Baru yang akan memimpin kami. Tak menindas dan menanduskan harapan kami lagi! Sang Batara itu telah berdiri teguh, tegak, dan tegar di atas ributnya bayu. Dan dia akan menguakkan senyum pengharapan dalam setiap kami, rakyat yang kehausan akan mentari.

Dan kami bahagia. Jangan ganggu kami.
Dan, jangan tangisi permohonan yang telah terkabur
bersama gemawan.
Jangan meronta.
Jangan menangis--meski cucuran darah sekalipun!