Senin, 30 Juni 2014

Balada Ruang Kaca

Mengemiskah keharusanku?
Mengemis dan mendamba setiap kasih
dalam ruang kaca?
Yang hanya membias dan memantul saja,
namun tak mendengar,
tak melihat,
dan tak bisa merasa?

Pecah!

Selasa, 24 Juni 2014

Aku Hanya Bisa Memberimu Isyarat

Aku amat canggung. Melihat pahat-pahat-Nya dalam setiap gurat wajahmu. Melihat tegaknya langkahmu. Melihat geligi-geligi yang menambah karisma dalam setiap tubuhmu.
Dan, aku bodoh.
Aku hanya bisa memberimu isyarat.

Aku begitu takut. Begitu takut untuk menggenggam dan mengambilmu. Bagaimanakah aku tidak takut? Kau laksana bayangan yang membayang--khatulistiwa. Hanya khayalkah kau yang selalu datang dalam tiap delusi yang menyerangku?
Dan, aku bodoh.
Aku hanya bisa memberimu isyarat.

Aku sangat sengsara. Kau bagaikan gergasi, penyiksa hati. Hatiku makin ciut melihatmu. Dengan banyak orang di sampingmu. Aku melayu, ya. Melayu! Layu karena aku semakin tahu kalau mengidamkanmu hanya akan memberiku sebuah injak.
Dan, aku bodoh.
Aku hanya bisa memberimu isyarat.

Jumat, 20 Juni 2014

Thank You, Spaghetti!

Buono...! Buono...! Buono...!
I love those smells. 
I love how the spaghetti works
in my mouth. 

Buono...! Buono...! Buono...!
I love these mordere,
you know what I mean, right?
That bolognese sauce flirts me!

Buono...! Buono...! Buono...!
And I love those two lips.
Thank you spaghetti, I love 
the way you say that it's kind of cheating! 

Kamis, 19 Juni 2014

Exterminating Insanity

My eyes are opened
and I realize that I'm still
stepping the sand,
not the cloud.

My eyes are opened
and I'm forced to see 
those-abusing-things
while I'm still wearing
my white long cloak.

Oh, my eyes are poignant!
I can't stand this.
Should I see masks, 
insanity, knives, dirty lips,
and so on?

I want to go back,
but should I exterminate
them? Give me power,
O, The Have!

I have to spread
the sane!

Memori Berbisik

Mungkin, judul puisi ini basi.
Biasa. Tak bermakna.
Namun, entah mengapa
untaian memori bergerak
dan seakan berpori-pori.

Namun, ini kusampaikan,
karena ia benar-benar bernyawa
dan bernapas. Dan ia berbisik kepadaku,
"Hai, ingatkah kamu akan aku,
hal yang kau sebut dengan 'memori'
yang menciptakan untaian kemanisan
untukmu dan untuknya?"

Oh, ia berbisik lagi!
"Kau tahu, kan, kini kau dan dia,
hanya dalam hitungan sempadan
dan tak bisa menyentuh satu sama lain?"

Dan aku tercenung.

Ampunkanlah segala dosaku,
seandainya kita tak lagi bertemu.*

Dan aku tak bisa menutup kotak memori itu.
Itu, manis! Manis! 

Memori ini benar-benar berbisik.
Bukan sekadar judul puisi basi!

*petikan lirik lagu Bisikan Hati - Siti Nurhaliza

Rabu, 18 Juni 2014

Menangisi Benih

Dengan ceria, aku berhasrat untuk menanam bunga mawar. Kunanti rekahnya, dan kurawat setiap hari. Tak lupa kusiram. Ku bermimpi mawar itu akan memancarkan keayuannya meski ia berduri. 
Kulihat dari jendela, ternyata ia belum tumbuh. 

Perlahan, aku melihat kalau mawar itu mulai menyembulkan tunasnya, hingga akhirnya perlahan ia memancarkan keindahannya. Merah. Merekah. Merona. Memesona. Ah, mimpiku terwujud!

Aku lalu keluar kamar dan memetik... aw! Tanganku tertusuk, dan aku berdarah. Sakit... sakit... sakit... Dan aku menangisi benih yang aku harapkan tumbuh dengan indahnya...

Selasa, 17 Juni 2014

Hujan Ini Tak Memberiku Sebuah 'Sempat'

Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas asbes-asbes. Membasahi dedaunan yang gugur dan terlerah di atasnya. 
Ada yang masih hijau.
Ada yang menguning.
Bahkan, ada yang tak berdaya--rapuh, tinggal tulang daun.
Ah, kau tak memberikanku sebuah sempat untuk membersihkan dedaunan itu. Dedaunan yang berserakan, dan kini dihanyut basah sang rerintikan. 

Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas tanah dalam pot. Membasahi setiap tanaman yang berlomba-lomba memancarkan serinya.
Ada merah,
ada kuning,
Bahkan ada yang tak berwarna. Suci.
Ah, kau tak memberikanku sebuah sempat untuk memetik satu dari mereka. Mereka yang berlomba-lomba untuk memancarkan keindahan dan kelembutannya.

Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas tanah dan pavingblok-pavingblok itu. 
Namun, semuanya masih mencipratkan lumpur-lumpur itu.
Semuanya cokelat. Mencipratkan 'keciplak' yang amat nyaring. Dan, aku hanya sempat menginjak lumpur itu untuk cepat beristirahat di peraduan,
meratapi aku yang selalu sepi.
Membuntal dibawah selimut,
memikirkan siapakah dedaunan yang mengotori hati,
siapakah kelopak yang bisa memancarkan seri dalam hati.

Ah, benar-benar, kau!
Hujan yang tak pernah memberiku sebuah sempat!

Minggu, 15 Juni 2014

Menanti

Antara ketenangan dan kegundahan,
aku merasa kini semarak itu melenyap.
Aku menanti gemalainya bayu,
yang membuat tangan melenggang-lenggok--
lentik... cantik....

Aku menanti ceracap 
yang membuatku menari
merobohkan dinding-dinding,
menghancurkan sepi--
terdiam mati aku di sini!

Mati menyergap...

dan... drap...
darah... drap...
datang... drap...
mem... drap...
buncah...

Sabtu, 14 Juni 2014

A... B... Busuk!

A, lalu B.

Kini, B. 
Padahal kemarin A.

Kamu itu membual
sesuatu yang membuatku
mual menelaah
mana A, mana B.

Busuk!

Selasa, 10 Juni 2014

Akan Ada Waktunya Kita Berdekatan

Sayang,
jangan pernah lelah
menanti detik itu.
Menanti detik untuk
saling bergandeng dalam otak.

Tahukah kamu?
Kalau aku lelah berada 

dalam sedu-sedan
yang kusulam sendiri
karena menantimu?

Tahukah kamu?
Kalau aku terlalu malas
berlama-lama
dalam fana yang kubentuk sendiri
karena sibuk memikirkanmu?

Aku yakin, akan ada saatnya
kita berdekatan.
Entah sebagai apa?
cuma Sahabatku yang mengetahui--
yang ada di setiap embus bayu
terselip dalam desah-desah mimpi.

Antara Toleransi dan Kompromi

Bisakah Kamu bertoleransi dengan aku sedikit?
Ya, Kamu! Aku berada dalam titik kulminasi--

sebuah titik di mana aku benar-benar lelah
dalam kehidupanku sebagai seorang penari
di tanah lapang! 

Aku lelah meliuk ke sana.
Aku lelah harus memelototkan mataku.
Aku lelah harus bergerak dengan pakem-pakem
yang justru membuatku tidak bisa bebas!

Lelah?
Ya, aku benar-benar lelah!
Sudahi musik ini!
Sudahi bunyi bonang,
sudahi bunyi rebana,
sudahi bunyi akordeon,
dan sudahi bunyi gambus
yang justru menimbulkan peluh.

Atau aku harus merebah,
sekarang!

Senin, 09 Juni 2014

Kangen

Jika ungkap hati ini mengatakan kangen,
masihkah aku harus merasa kosong
jika kau ada di sisi?
Gaungmu terdengar, 
namun dirimu justru mengikis rindu
dengan titik-titik kekeliriuan...

Minggu, 08 Juni 2014

Pinggiran

Ah, sepertinya aku benar-benar sesak!
Sesak memikirkan kebuntuan--
kebuntuan di persimpangan. 

Namun, sepertinya telah kuambil
keputusan yang amat tepat.
Duduk di pinggiran,
menggapai wasiat dan senyuman...

tanpa suluh.
Hendak kemana diteruskan?