Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas asbes-asbes. Membasahi dedaunan yang gugur dan terlerah di atasnya.
Ada yang masih hijau.
Ada yang menguning.
Bahkan, ada yang tak berdaya--rapuh, tinggal tulang daun.
Ah, kau tak memberikanku sebuah sempat untuk membersihkan dedaunan itu. Dedaunan yang berserakan, dan kini dihanyut basah sang rerintikan.
Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas tanah dalam pot. Membasahi setiap tanaman yang berlomba-lomba memancarkan serinya.
Ada merah,
ada kuning,
Bahkan ada yang tak berwarna. Suci.
Ah, kau tak memberikanku sebuah sempat untuk memetik satu dari mereka. Mereka yang berlomba-lomba untuk memancarkan keindahan dan kelembutannya.
Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas tanah dan pavingblok-pavingblok itu.
Namun, semuanya masih mencipratkan lumpur-lumpur itu.
Semuanya cokelat. Mencipratkan 'keciplak' yang amat nyaring. Dan, aku hanya sempat menginjak lumpur itu untuk cepat beristirahat di peraduan,
meratapi aku yang selalu sepi.
Membuntal dibawah selimut,
memikirkan siapakah dedaunan yang mengotori hati,
siapakah kelopak yang bisa memancarkan seri dalam hati.
Ah, benar-benar, kau!
Hujan yang tak pernah memberiku sebuah sempat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar