Minggu, 12 April 2015

Kesalahan Sebuah Janji

Kini, aku berjalan menuju sebuah tempat, di mana aku menyimpan sesuatu yang bernama 'janji'. Janji yang dulu sempat kuutarakan kepadamu, mengingat dahulu aku masih bersama. Tetapi, kala aku harus berkaca akan masa sekarang, aku mengetahui bahwa kini hatiku terbagi. Apakah aku harus tetap kembali melunasi janjiku terhadapmu, atau justru aku harus pergi meninggalkanmu dengan sebuah janji yang sebenarnya kusimpan dalam hatiku sendiri?

Kau pernah mengatakan padaku bahwa janji adalah sebuah utang yang harus ditepati. Dan kau menggaungkan kembali janji yang selalu kugembar-gemborkan dalam nada yang kekanak-kanakan itu, "Di hatiku cuma ada kamu." Tetapi, apakah itu justru memberikan sebuah 'ya' pada akhirnya untuk aku katakan sebagai pelunas janjiku sendiri ketika pada akhirnya kita harus berakhir nantinya? Dan aku meragukan janjiku sendiri.

Empunya Semesta Nan Agung, aku meragu akan bibirku sendiri. Apakah aku harus menepati janjiku sendiri bahwa aku akan tetap kembali padanya meski aku harus membuat luka yang sudah lama kutambal kembali mengeluarkan nanah dan berdarah? Aku mengetahui betapa sakitnya aku diprioritaskan di nomor dua, meski aku bahagia telah menjadi yang kedua. Tetapi, apakah dengan menepati janjiku itu, aku akan berubah menjadi seorang perompak keji yang akan kembali merenggut manisnya cinta?

Ini semua salahku. Karena telah menjadi yang kedua.

Minggu, 29 Maret 2015

Terbang Pulang

Biarkan aku mengepakkan sayap-sayap ini bersamamu.
Karena aku sudah merelakan rasa-rasa yang lelah dan lerah ini.
Meski bodohnya itu kupendam,
aku bersumpah aku akan mengembalikanmu.

Aku tahu kamu.
Bisa seenaknya saja hinggap ke sarang yang satu,
ke sarang yang lain. Bercinta dengan aku di sana,
hingga cinta kita berbuah manis.

Tetapi biarlah aku kini mengantarmu.
Kembali.
Kepadanya.
Dan aku akan setia mengantarmu kembali kepadanya,
kasihmu. Yang dulu. Selalu.

*judul diambil dari lagu Khadijah Ibrahim - "Terbang Pulang"

Selasa, 24 Maret 2015

Diselubung Dinginnya Sejarah Hati

Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.

Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya sejarah adalah kaca. Kaca yang akan membuat aku memikirkan kembali apa yang sebenarnya berlaku. Kaca yang akan membuat kamu memikirkan kembali keputusanmu. Lebih tepatnya kemerdekaanmu setelah aku tiada.

Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.

Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya adalah riak-riak bening yang memantulkan bayangan kita. Aku tidak sanggup melihat riak-riak itu. Dan, aku baru sadar kalau riak-riak itu punya sisi ngeri dan nyeri. Membuat lukaku berdarah. Membuat kamu semakin merdeka atas keputusanmu.

Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.

Biarkan impian itu pergi.
Impian untuk kembali padamu.
Toh, untuk apalagi,
mengharapkan yang tak bisa bersatu?

Minggu, 22 Maret 2015

Kebodohanku

Hari sudah malam, Tampanku. Tetapi, aku ingin mengatakan ini, sebelum aku lelap dalam gelapnya malam.

Apakah selama ini kamu menyadari bahwa aku rindu setiap jengkal kehadiranmu, meski itu hanya dalam mimpi? Memang, kata orang kau terlalu sempurna untukku. Kau terlalu sempurna untuk menjadi seorang Pangeran yang akan membangunkan Putri Tidur ini dari tidurnya yang amat panjang--pencarian akan cinta sejati yang amat melelahkan! Tetapi, aku tidak ingin menghiraukan apa yang mereka katakan tentangmu.

Aku memang terlalu bodoh untuk memendam perasaan untuk orang yang terlalu sempurna seperti dirimu. Memang, pada awalnya aku tidak memedulikan apa yang mereka katakan. Aku yang terlalu sering menaruh harap padamu. Aku yang terlalu mengharapkan hal-hal yang besar. Aku yang memang terlalu indah kala memimpikanmu. Aku yang terlalu bersemangat bersaing dengan kenyataan bahwa aku harus mengalah.

Ketika aku melihatmu bersama pesaingku, aku merasakan bahwa aku harus memanggil seseorang untuk (setidaknya) mencubit atau memukulku. Agar aku tahu kalau ini bukan mimpi. Ya, aku merasa bodoh dan kalah. Mengawang dalam kekalahan. Membuka dan membuat luka lama ini menganga dan berdarah--kenyataan bahwa aku tidak akan mendapatkan seorang Pangeran Berkuda Putih yang akan menjemputku.

Aku merasa kalah,
dan aku merasa bodoh, Tampanku.

Rabu, 18 Maret 2015

Penjara

Hujan ini indah, Tampanku. Namun, aku sedih karenanya.

Hujan ini tampak lebih seperti penjara untukku--maksudku, penjara basah. Aku takut kebasahan karenanya. Aku takut jika aku keluar, aku akan kuyup. Dan akan kuterima omelanmu lewat telepon. Tetapi, aku memang membenci parasmu yang membuatku setiap hari ingin pergi. Membelitku sehingga aku ingin bertemu.

Dan aku terpenjara dalam hujan sehingga hujan membelitku dalam perasaan yang dinamakan sengsara. Aku bermimpi bahwa kau menyelamatkanku, Tampanku. Menyelamatkanku dan membebaskanku dari kungkungan yang membuatku sengsara. Nelangsa. Tak terkata.

Selamatkan aku, Tampanku.

Selamatkan aku.

Selasa, 17 Maret 2015

Lelapku

Aku lelah, Tampanku.

Mari kita berpisah sejenak dari rutinitas yang melelahkan ini. Karena malam telah menjelang dan juga, memang, aku lelah. 

Inginku, aku rebah di dadamu yang bidang itu dan menenggelamkan semua kekesalan yang kudapat seharian ini. Aku begitu lelah dengan semua rutinitas yang memuakkan. Dan bumi menimpakannya padaku. Benar, aku ingin lelap dalammu.

Kau memelukku, Erat. Membelai rambutku mesra. Di kamar kita. 

"Kalau kamu nggak pernah merasakan lelah, tandanya kamu bukan manusia," katamu kemudian sambil mengecup keningku dan membelai rambutku penuh sayang. Dan kau mencoba terjaga sementara aku kelelahan. 

Dan dalam tidurku, aku tersenyum. :)

Minggu, 15 Maret 2015

Mentari

Selamat pagi, Tampanku.

Mari kita rayakan pagi kita ini dengan berlari di sekitar Selasar Kartini hingga Lapangan Pancasila dengan ber-jogging. Memang, dingin tidak pernah absen dari kota di lereng Merbabu ini, Tampanku. Jangan lupakan jaketmu. Aku tidak mau kau sibuk menggigil kedinginan saat kita berlari. Terdengar mengatur? Ingat, kita berjanji untuk saling menegur dan mengingatkan akan banyak hal, bukan? Kita harus saling terbuka. Menyimpan perasaan hanya akan membuatmu sengsara dan tersiksa sendiri. Jadi, jujurlah terhadap dirimu sendiri--itu yang kulakukan, Tampanku.

Kau memakai jaketmu dan sepatu kets mu. Tak lupa pakaian basket yang memotret seluruh lekuk yang ada di tubuhmu. Hei, tahukah? Sedari dulu, (setelah pribadimu itu, tentu!) aku begitu menyukai keatletisanmu yang terpahat sempurna. Terbayang sudah di mana tempat yang tepat untuk menenggelamkan tangisku--dadamu yang bidang dan tempat untuk bersandar kala aku lelah meski kau juga harus mendengarkan amarahku--pundakmu yang lapang. Ayo, kita berlari.

Aku terengah-engah, Tampanku.

Tapi, aku tidak mungkin memaksakan diriku untuk terus berlari. Mari kita duduk. Bodoh, aku tidak membawa air. Namun, selalu saja kau tahu apa yang kubutuhkan. Kutenggak air dari botol minummu itu. Dan dahagaku terpuaskan sedikit demi sedikit. Dan kau meledekku, "Sudah? Semangat amat minumnya?" Aku langsung menjawil perutmu manja dan kita bersama tertawa. Dan, sepertinya kita telah menerbitkan mentari sendiri dengan kesederhanaan kita hari ini.

Benar, kan, Tampanku? Kau pernah berkata bahwa kesederhanaan adalah sebuah kekuatan. Termasuk pagi ini. Kita tak perlu bersaing dengan dinginnya pagi untuk menerbitkan mentari. Hanya, kita perlu untuk membuat hati kita secerah mentari.

Ah, sekali lagi kau tahu bagaimana membuatku kepayang. Dan pagi ini, aku menerima kecup di pipiku yang masih berkeringat.

Pagi ini, aku merasa seperti yang terbahagia di dunia :)