Minggu, 22 Maret 2015

Kebodohanku

Hari sudah malam, Tampanku. Tetapi, aku ingin mengatakan ini, sebelum aku lelap dalam gelapnya malam.

Apakah selama ini kamu menyadari bahwa aku rindu setiap jengkal kehadiranmu, meski itu hanya dalam mimpi? Memang, kata orang kau terlalu sempurna untukku. Kau terlalu sempurna untuk menjadi seorang Pangeran yang akan membangunkan Putri Tidur ini dari tidurnya yang amat panjang--pencarian akan cinta sejati yang amat melelahkan! Tetapi, aku tidak ingin menghiraukan apa yang mereka katakan tentangmu.

Aku memang terlalu bodoh untuk memendam perasaan untuk orang yang terlalu sempurna seperti dirimu. Memang, pada awalnya aku tidak memedulikan apa yang mereka katakan. Aku yang terlalu sering menaruh harap padamu. Aku yang terlalu mengharapkan hal-hal yang besar. Aku yang memang terlalu indah kala memimpikanmu. Aku yang terlalu bersemangat bersaing dengan kenyataan bahwa aku harus mengalah.

Ketika aku melihatmu bersama pesaingku, aku merasakan bahwa aku harus memanggil seseorang untuk (setidaknya) mencubit atau memukulku. Agar aku tahu kalau ini bukan mimpi. Ya, aku merasa bodoh dan kalah. Mengawang dalam kekalahan. Membuka dan membuat luka lama ini menganga dan berdarah--kenyataan bahwa aku tidak akan mendapatkan seorang Pangeran Berkuda Putih yang akan menjemputku.

Aku merasa kalah,
dan aku merasa bodoh, Tampanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar