Sabtu, 14 Maret 2015

Gelisah di Dua Pagi

Aku tidak bisa tidur, Tampanku.

Maukah kau datang ke kamarku? Tidaklah sulit untuk keluar dari rumahmu, menaiki motormu, dan mengajakku berkeliling menikmati kota kecil ini. Tiba-tiba, aku merasa bahwa aku ingin menikmati subuh di Tamansari. Menikmati dinginnya kota kecil di bawah Merbabu ini bersamamu. Dengan semangkuk Indomie goreng favoritku dan tak lupa... segelas bandrek--makanan kita.

Tiba-tiba, kau telah ada di hadapanku. Berjaket kulit hitam dan bercelana jins. Tak lupa, kacamata bertangkai merahmu yang selalu kurindu setiap kau datang. Dengan begitu girangnya aku duduk di jok motormu, lalu berangkat berdua ke sana. Ke sebuah tempat makan kecil yang buka sebagai teman untuk bersubuh ria. Dan ku hangatkan badanku dengan memeluk badanmu yang tinggi nan tegap itu.

Dan dengan jenakamu kau hangatkan aku. Tawamu, setiap jengkal senyummu, dan bias wajahmu... adalah candu buatku yang seumpama tambang yang mengikatku. Tapi tambang imajiner ini adalah dirimu yang tak bisa melepaskan aku. Meski terkadang, memikirkan bagaimana cara melepaskannya sendiri adalah derita.

Hingga aku telah menemukan kantukku. Mengajakku pulang, kau lakukan. Dan kau biarkan aku tidur di punggungmu nan tegap itu. Membaringkanku. Hingga mengecup sambil berkata selamat tidur. Hangat kurasa. Membuncah hatiku. Selalu.

Dan takkan pernah berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar