Kau kedinginan, Tampanku?
Sama.
Salatiga hari ini begitu jahat, Tampanku. Ia menurunkan hujan dan meniupkan dinginnya kepada semua orang, di tengah gempitanya mereka yang tengah berhasil menyelesaikan studinya setelah berperang dan bertahan dengan begitu gagah di universitas yang sama-sama kita cinta ini. Aku bukan mengatakan sesuatu yang aneh, Tampanku. Tapi, aku merasakan kejahatan yang diberikan hujan dan dingin di kota ini. Diberikannya sebuah perasaan klise yang disebut rindu.
Rindu memang sesuatu yang aneh setiap kumasuki Sabtu malam. Hari keramat bagi para pemuda. Entah itu mereka yang saling mencintai, atau mereka yang masih sendiri. Termasuk aku. Entah apa yang ada di perasaanku ini, tetapi perasaan klise itu selalu memelukku dengan begitu eratnya! Aku benci. Ya, aku memang benci akan hal yang disebut rindu. Jika tidak ada yang namanya benci merindu, pasti tidak akan lahir lagu-lagu seperti Jiwa Tersiksa Menahan Rindu. Lebih jauh lagi, Badai Kerispatih pun tidak akan pernah menciptakan Lagu Rindu jika ia tidak merasakan perasaan yang sama.
Ah, Tampanku. Cobalah kau jawab dua pertanyaan ini. Mengapa perasaan rindu itu harus ada? Dan, kalau perasaan rindu itu ada, kenapa aku harus merasakan rindu itu...
...dan menaruhnya padamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar