Sabtu, 14 Maret 2015

Pelangi Petang-ku

Selamat petang, Tampanku.

Sore ini, aku ingin pergi ke sebuah tempat, di mana aku bisa menghabiskan waktu kita berdua. Berdua saja. Kau tidak keberatan, kan, Tampanku? Jika kau mau, datanglah ke kamarku--kamar kita, maksudku--pada pukul empat sore. Ingin kuhabiskan waktuku dengan duduk berdua sambil meminum milkshake cokelat.

Tampanku, tidakkah kau tahu bahwa menghabiskan waktu dalam menyaingi gagahnya petang adalah menyenangkan? Dengan tawa kita, dengan hal-hal gila yang kita lakukan bersama. Pergi menyusuri Lapangan Pancasila di kala sore sambil membincangkan kita. Pergi makan di sebuah restoran kaki lima di lapangan itu sambil bercengkerama bersamamu. Ah, indahnya, Tampanku. Kau selalu tahu bagaimana caranya membuatku mabuk.

Sore itu, aku jadi teringat salah satu lagu klasik yang kini didendangkan oleh artis favoritku: Dekatlah Padaku. Lagu itu mengingatkanku akanmu. Baitnya jelas menggambarkan setiap jengkal kemesraan kita. Hingga malam menjelang. Lembutnya jemariku digenggam gagahnya jemarimu, seakan meyakinkan kalau kamulah tempatku berteduh. Tetapi, kau bilang berteduh bukan berarti cengeng, kan?

Dan, kurasa pelangi tercipta di sore ini. Pelangi di hatiku. Karena kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar