Senin, 09 Maret 2015

Petikmu

Selamat malam, Tampanku.

Tidak mungkin aku melupakan wajahmu dulu sejak aku masih tampak kinyis. Sejak aku masih belum bisa menempatkan diri dengan baik karena aku masih berpikiran bahwa aku adalah makhluk yang ingin lagi memakai seragam putih abu-abu. Makhluk yang ingin lagi menjadi gila karena mulai tidak tahan akan segala situasi sialan yang dinamakan perkuliahan.

Saat itu, hasrat untuk memberimu senyumku yang tidak seberapa selalu membendung hari-hariku. Senyum yang ingin kuberikan, semanis atau seaneh apapun itu, untukmu. Apalagi saat kau memetik gitar dengan lagu-lagu klasik itu.

Dan, Tampanku, malam ini aku merindukan petik-petikmu. Aku merindukan semua petikmu, senyummu, bahkan ketika kau menatapku aneh ketika melihat dan mengetahui perasaan apa yang kurasakan. Memang, Tampanku. Aku tidak punya malu. Ah, seandainya aku menjadi seorang perempuan, aku akan memilikimu, seutuhnya. Ya, seutuhnya, Tampanku.

Tapi, Tampanku, biarlah aku merindu akan petik gitarmu dulu. Un Dia de Novembre itu.

Mimpi indah, Tampanku.

Dari aku,
yang hanya ingin mendengarmu
bersenandung lewat senar-senar itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar