Untuk kamu,
si kaus biru.
Baiklah. Terima kasih atas sakit yang kamu beri. Terima kasih atas setiap mimpi yang cuma mimpi ini. Terima kasih pula atas suaramu. Terima kasih atas nyanyian dan musikmu yang indah. Terima kasih atas parasmu yang mematikan. Ya, terima kasih untuk semuanya, Tampanku. Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan. Memori, tawa, rindu yang terpendam, atau apa pun itu.
Terima kasih atas bayanganmu yang tak rewel. Karena ke sanalah aku mendekatkan diri. Meski, dalam nyata, aku menemukan kau tak memberikan setetes simpati kepadaku. Terima kasih atas setiap fotomu yang tersenyum kepadaku jika aku tersiksa menahan rindu ini. Terima kasih atas suara yang setiap hari boleh kudengar meski aku tidak menginginkannya. Terima kasih atas undangan bernyanyi berdua yang setiap Sabtu kuterima, meski sebenarnya aku tak tahan menahan siksa ketika menatap wajahmu. Siksa itu adalah siksa yang membuatku dihakimi. Siksa karena memendam perasaan pada orang yang menjalani kodrat dengan seharusnya.
Dan, satu hal. Terima kasih atas tangis yang kau hadiahkan di Sabtu malam ini. Dan, aku harus tegar melihat jemarimu menggenggam jemarinya. Oh, aku merindukan jemari kekar itu, Tampanku. Dengan wanita yang kau pilih. Dengan wanita yang (mungkin) nantinya akan bersanding denganmu. Dengan wanita yang kau ingin ajak menua bersamamu. Ah, Tuhan. Kuatkan Hamba-Mu yang berdosa ini.
Sekali lagi, terima kasih.
Dari aku,
yang tak bisa membendung air matanya
di Sabtu malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar