Rabu, 15 Oktober 2014

Jangan Dikenang, Jangan Diucap

Hati merintih bersembilu
Karena setitik embun,
yang entah menetes di kuntum mana.

Dalam kerontang yang meresap,
aku berharap takkan ada janji
yang mengerontang (lagi).

Dalam tiga-tiga bait ini,
aku hanya mengenangkanmu
yang terlerah sebab silapmu sendiri.

Biarlah titian kita terungkai,
toh...
aku mengubur itu. Dan kau tak tahu.

Terimakasih kepada Almh. Toh Puan Rafeah Buang
untuk lagu "Disebut Jangan Dikenang Jangan" sebagai
inspirasi dari puisi ini.

Jumat, 10 Oktober 2014

Orgasme Absolut

Aku menggenggam khayalan,
namun aku tak mengerti,
apakah itu sebuah suratan.
Khayalan yang menggambarkan sesuatu
: erangan kepuasan karena citramu.

Citramu adalah tiga ratus enam puluh derajat,
tanpa harus berusaha menggemukkan setiap sisi sanubari.
Dan,
aku mengalami orgasme absolut.
Terima kasih, Sayang.

Senin, 22 September 2014

Refleksi Kepada Yang Semu

Ketika yang semu mengganti takhta yang nyata, apakah jawabmu?
Ketika yang sementara mengganti takhta yang berkekalan, apakah alasanmu?
Ketika yang tak bertanggung jawab merajai takhta yang berkompeten, apakah tuturmu?
Ketika yang nun menggetarkan hati, mengesampingkan yang ada di samping, berbicarakah engkau?
Ketika yang nun itu berbeda dan masih menggetarkan hati, meski kau tahu kalau berbeda itu hanya bisa berdamping, bertuturkah engkau?
Dan ketika angka nol dan satu merajai kehidupan dan mengubah laku insan, mengakukah engkau?

Selasa, 02 September 2014

Seloka Asmara

Daun jambu gugur di tanah
Menguning layu dalam pandangan
Asmara bertebaran dalam darah
Jangan salahkan semua akibat jelingan

Menguning layu dalam pandangan
Rupanya sejuk di mata titian sehari
Jangan salahkan semua akibat jelingan
Ekor mata sakti berkepinglah hati

Rupanya sejuk di mata titian sehari
Bak teratai menggenang anggun parasnya
Ekor mata sakti berkepinglah hati
Kiambang kasih tak dapat kubendung sudahnya

Bak teratai menggenang anggun parasnya
Paras indah takkan pedoman selalu
Kiambang kasih tak dapat kubendung sudahnya
Budi sedetikmu hangatkan selalu

Sabtu, 30 Agustus 2014

Karena

Setiap karenamu adalah sembilu.
Kau menjadikanku asmara yang melarutkanmu
bukan disebabkan tulus dan sanubari
yang berbicara.

Tahukah kau, cintamu belacu.
Aku bukan jatuh dalam setiap helai sutra
di setiap kata-kata dan romansa
yang teruntai.

Mana 'kan belacu dan sutera
boleh bergandeng satu?
Rusak!

Kamis, 28 Agustus 2014

Rasakanlah

Dan rasakanlah tuguku, 
dan luahkanlah setiap rasa
yang bersemadi dan berpendar
meski harus kusibak
ratusan--bahkan ribuan kali!

Tugu-tugu pertahanan ini telah meretak
: terkikis selumbar demi selumbar

karena pahat yang tak tentu arah.
Mencoba mengikis agar mengetahui
rahasia demi rahasia--sampai kambiumku!

Hingga pada saatnya aku retak:
jangan tanya!

Selasa, 26 Agustus 2014

Sepikir

Ketika terbuka kelopak matamu,
apakah terbias pandangan,
bahwa jejak mayapada
bukan sebuah rentang senang
yang akan membawamu
menuju puncak gemilang?

Sepikirkah kita?

Ketika mentari menyibak lentera malam,
apakah tersengat matamu dan terbuka
bahwa rentang dunia penuh cabar menyesakkan?
Penuh kasam, mengotori kalbu
mencoba menutup mistik-Nya yang mencoba bersuara:
tanpa setitikpun kekata!

Sepikirkah kita?

Jangan sesat,
jangan tenggelam dalam gelap!
Jangan berkasam!
Teluskanlah sukma-Nya, kotakan dalam sanubari!

Terinspirasi dari tiga lagu Melayu tradisional
berentak sufi timur tengah:
Nirmala, Satu Ta'akulan, dan Samrah Mentari.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Jeling-Jeling Jahanam

Jeling-jeling itu jelas menaruh kasih, namun mengapa kau jeling-jeling pada gahara yang sudah memiliki pemiliknya--si suri jelita? Jeling-jeling itu lalu berubah menjadi lirikan yang kau pikir sudah cukup membuatnya membuncah dan... ketika kau mendapati ia membalas lirikanmu dan membuat sang permata empunya tahta retak seribu, kau merasa menang. Sesungguhnya, kau kalah.

Jeling-jeling itu jelas mengubah derajatmu. Dari seorang bunga mawar yang memancarkan seri dari setiap kelopak menjadi bunga melati yang hanya dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan: makanan seorang yang ingin mengundang setan, malah! Jadi, apa bedanya kau dengan setan jika kau mengambil kekasih seseorang hanya dari melirik?

Jahanam!

Kamis, 21 Agustus 2014

Walau Seribu Tangis

Walau seribu tangis kau tumpahkan sehingga kau ingin mengubah arah peta agar menuju ke negaramu, kami tidak akan mau. Berhentilah menangis, wahai insan-kuat-namun-kerapuhan. Kami tidak mau kau jerumuskan agar dapat berwisata dan berdiam di negerimu, Negeri Seribu Impi! Karena hanya impi, impi, dan impi yang kami dapatkan. Itu siksa!

Sang Kusir telah menunjukkan jalan menuju Negeri Seribu Mentari yang kami rindui semenjak tindas menerpa dan tandus merajai negeri kami. Kami tak mau amanah diperkosa--bahkan ditindas--tidak menghiraukan teriak yang meriak hingga berkepul menjadi satu! Kami tidak mau negeri kami mengalami ketandusan dalam segala hal--termasuk ketandusan nurani!

Kami akan berdiam di negeri itu, bersama Sang Batara Baru yang akan memimpin kami. Tak menindas dan menanduskan harapan kami lagi! Sang Batara itu telah berdiri teguh, tegak, dan tegar di atas ributnya bayu. Dan dia akan menguakkan senyum pengharapan dalam setiap kami, rakyat yang kehausan akan mentari.

Dan kami bahagia. Jangan ganggu kami.
Dan, jangan tangisi permohonan yang telah terkabur
bersama gemawan.
Jangan meronta.
Jangan menangis--meski cucuran darah sekalipun!

Senin, 30 Juni 2014

Balada Ruang Kaca

Mengemiskah keharusanku?
Mengemis dan mendamba setiap kasih
dalam ruang kaca?
Yang hanya membias dan memantul saja,
namun tak mendengar,
tak melihat,
dan tak bisa merasa?

Pecah!

Selasa, 24 Juni 2014

Aku Hanya Bisa Memberimu Isyarat

Aku amat canggung. Melihat pahat-pahat-Nya dalam setiap gurat wajahmu. Melihat tegaknya langkahmu. Melihat geligi-geligi yang menambah karisma dalam setiap tubuhmu.
Dan, aku bodoh.
Aku hanya bisa memberimu isyarat.

Aku begitu takut. Begitu takut untuk menggenggam dan mengambilmu. Bagaimanakah aku tidak takut? Kau laksana bayangan yang membayang--khatulistiwa. Hanya khayalkah kau yang selalu datang dalam tiap delusi yang menyerangku?
Dan, aku bodoh.
Aku hanya bisa memberimu isyarat.

Aku sangat sengsara. Kau bagaikan gergasi, penyiksa hati. Hatiku makin ciut melihatmu. Dengan banyak orang di sampingmu. Aku melayu, ya. Melayu! Layu karena aku semakin tahu kalau mengidamkanmu hanya akan memberiku sebuah injak.
Dan, aku bodoh.
Aku hanya bisa memberimu isyarat.

Jumat, 20 Juni 2014

Thank You, Spaghetti!

Buono...! Buono...! Buono...!
I love those smells. 
I love how the spaghetti works
in my mouth. 

Buono...! Buono...! Buono...!
I love these mordere,
you know what I mean, right?
That bolognese sauce flirts me!

Buono...! Buono...! Buono...!
And I love those two lips.
Thank you spaghetti, I love 
the way you say that it's kind of cheating! 

Kamis, 19 Juni 2014

Exterminating Insanity

My eyes are opened
and I realize that I'm still
stepping the sand,
not the cloud.

My eyes are opened
and I'm forced to see 
those-abusing-things
while I'm still wearing
my white long cloak.

Oh, my eyes are poignant!
I can't stand this.
Should I see masks, 
insanity, knives, dirty lips,
and so on?

I want to go back,
but should I exterminate
them? Give me power,
O, The Have!

I have to spread
the sane!

Memori Berbisik

Mungkin, judul puisi ini basi.
Biasa. Tak bermakna.
Namun, entah mengapa
untaian memori bergerak
dan seakan berpori-pori.

Namun, ini kusampaikan,
karena ia benar-benar bernyawa
dan bernapas. Dan ia berbisik kepadaku,
"Hai, ingatkah kamu akan aku,
hal yang kau sebut dengan 'memori'
yang menciptakan untaian kemanisan
untukmu dan untuknya?"

Oh, ia berbisik lagi!
"Kau tahu, kan, kini kau dan dia,
hanya dalam hitungan sempadan
dan tak bisa menyentuh satu sama lain?"

Dan aku tercenung.

Ampunkanlah segala dosaku,
seandainya kita tak lagi bertemu.*

Dan aku tak bisa menutup kotak memori itu.
Itu, manis! Manis! 

Memori ini benar-benar berbisik.
Bukan sekadar judul puisi basi!

*petikan lirik lagu Bisikan Hati - Siti Nurhaliza

Rabu, 18 Juni 2014

Menangisi Benih

Dengan ceria, aku berhasrat untuk menanam bunga mawar. Kunanti rekahnya, dan kurawat setiap hari. Tak lupa kusiram. Ku bermimpi mawar itu akan memancarkan keayuannya meski ia berduri. 
Kulihat dari jendela, ternyata ia belum tumbuh. 

Perlahan, aku melihat kalau mawar itu mulai menyembulkan tunasnya, hingga akhirnya perlahan ia memancarkan keindahannya. Merah. Merekah. Merona. Memesona. Ah, mimpiku terwujud!

Aku lalu keluar kamar dan memetik... aw! Tanganku tertusuk, dan aku berdarah. Sakit... sakit... sakit... Dan aku menangisi benih yang aku harapkan tumbuh dengan indahnya...

Selasa, 17 Juni 2014

Hujan Ini Tak Memberiku Sebuah 'Sempat'

Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas asbes-asbes. Membasahi dedaunan yang gugur dan terlerah di atasnya. 
Ada yang masih hijau.
Ada yang menguning.
Bahkan, ada yang tak berdaya--rapuh, tinggal tulang daun.
Ah, kau tak memberikanku sebuah sempat untuk membersihkan dedaunan itu. Dedaunan yang berserakan, dan kini dihanyut basah sang rerintikan. 

Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas tanah dalam pot. Membasahi setiap tanaman yang berlomba-lomba memancarkan serinya.
Ada merah,
ada kuning,
Bahkan ada yang tak berwarna. Suci.
Ah, kau tak memberikanku sebuah sempat untuk memetik satu dari mereka. Mereka yang berlomba-lomba untuk memancarkan keindahan dan kelembutannya.

Menderas hujan yang membuncah, menitik dan membunyi di atas tanah dan pavingblok-pavingblok itu. 
Namun, semuanya masih mencipratkan lumpur-lumpur itu.
Semuanya cokelat. Mencipratkan 'keciplak' yang amat nyaring. Dan, aku hanya sempat menginjak lumpur itu untuk cepat beristirahat di peraduan,
meratapi aku yang selalu sepi.
Membuntal dibawah selimut,
memikirkan siapakah dedaunan yang mengotori hati,
siapakah kelopak yang bisa memancarkan seri dalam hati.

Ah, benar-benar, kau!
Hujan yang tak pernah memberiku sebuah sempat!

Minggu, 15 Juni 2014

Menanti

Antara ketenangan dan kegundahan,
aku merasa kini semarak itu melenyap.
Aku menanti gemalainya bayu,
yang membuat tangan melenggang-lenggok--
lentik... cantik....

Aku menanti ceracap 
yang membuatku menari
merobohkan dinding-dinding,
menghancurkan sepi--
terdiam mati aku di sini!

Mati menyergap...

dan... drap...
darah... drap...
datang... drap...
mem... drap...
buncah...

Sabtu, 14 Juni 2014

A... B... Busuk!

A, lalu B.

Kini, B. 
Padahal kemarin A.

Kamu itu membual
sesuatu yang membuatku
mual menelaah
mana A, mana B.

Busuk!

Selasa, 10 Juni 2014

Akan Ada Waktunya Kita Berdekatan

Sayang,
jangan pernah lelah
menanti detik itu.
Menanti detik untuk
saling bergandeng dalam otak.

Tahukah kamu?
Kalau aku lelah berada 

dalam sedu-sedan
yang kusulam sendiri
karena menantimu?

Tahukah kamu?
Kalau aku terlalu malas
berlama-lama
dalam fana yang kubentuk sendiri
karena sibuk memikirkanmu?

Aku yakin, akan ada saatnya
kita berdekatan.
Entah sebagai apa?
cuma Sahabatku yang mengetahui--
yang ada di setiap embus bayu
terselip dalam desah-desah mimpi.

Antara Toleransi dan Kompromi

Bisakah Kamu bertoleransi dengan aku sedikit?
Ya, Kamu! Aku berada dalam titik kulminasi--

sebuah titik di mana aku benar-benar lelah
dalam kehidupanku sebagai seorang penari
di tanah lapang! 

Aku lelah meliuk ke sana.
Aku lelah harus memelototkan mataku.
Aku lelah harus bergerak dengan pakem-pakem
yang justru membuatku tidak bisa bebas!

Lelah?
Ya, aku benar-benar lelah!
Sudahi musik ini!
Sudahi bunyi bonang,
sudahi bunyi rebana,
sudahi bunyi akordeon,
dan sudahi bunyi gambus
yang justru menimbulkan peluh.

Atau aku harus merebah,
sekarang!

Senin, 09 Juni 2014

Kangen

Jika ungkap hati ini mengatakan kangen,
masihkah aku harus merasa kosong
jika kau ada di sisi?
Gaungmu terdengar, 
namun dirimu justru mengikis rindu
dengan titik-titik kekeliriuan...

Minggu, 08 Juni 2014

Pinggiran

Ah, sepertinya aku benar-benar sesak!
Sesak memikirkan kebuntuan--
kebuntuan di persimpangan. 

Namun, sepertinya telah kuambil
keputusan yang amat tepat.
Duduk di pinggiran,
menggapai wasiat dan senyuman...

tanpa suluh.
Hendak kemana diteruskan?

Selasa, 27 Mei 2014

Denting

ting! ting! ting!
keras berdenting
di sana.
di sini.
di sudut kosong.
ting! ting! ting!

ting! ting! ting!
keras berdenting

di sini.
di situ.
di sudut kosong.
ting! ting! ting!

ting! ting! ting!
ti... sudah!
cukup!

Kamis, 22 Mei 2014

Gurindam

Kini, kupijak dunia dengan kaki kecilku.
Tanpa pegangan, tanpa rengkuhan,
dan tanpa genggaman.

Dan kini, telah kupandang angkara
yang datang bertubi.
Angkara yang tanpa kamuflase,
bukan skenario yang direka,
dan itu bukan semu!
Bunda, 
aku ingin kembali mencecap sinar lampu senthir
meski hanya sejumput,
daripada harus terkapar dalam cahaya neon yang mendera.

Genggam aku, Bunda!
Dengan gurindammu yang manis,

di balik pahit petuah yang kami resap
setiap hari.

Aku merindu...
Aku merindu...
Aku merindu...

Senin, 12 Mei 2014

Bunga

           Tangkaimu mulus tak berluka. Daunmu tak bergugur--masih kuat dalam lindungan tangkainya. Kelopakmu adalah lambang kemegahan--tempat bertandang kumbang-kumbang.

              Itukah ayu?

Minggu, 11 Mei 2014

Rintik

Di balik jendela,
aku melihat rintik-rintik
menitik basah
menggenang halaman
di sudut sanubari.

Menitik dan membasahi
namun tak memberi seri
dalam diri
karena kasih terlalu banyak
mengundang mendung
dibalik semu semi senyum kami.

Salatiga, 11 Mei 2014
21.25 WIB

Sabtu, 10 Mei 2014

Merpati

Sampai bila aku,
menanti merpati
yang akan hinggap di atas dahan,
yang tak akan terbang--
membuat hatiku terdayuh
dan menghiba?

Salatiga, 10 Mei 2014
22.30 WIB