Walau seribu tangis kau tumpahkan sehingga kau ingin mengubah arah peta agar menuju ke negaramu, kami tidak akan mau. Berhentilah menangis, wahai insan-kuat-namun-kerapuhan. Kami tidak mau kau jerumuskan agar dapat berwisata dan berdiam di negerimu, Negeri Seribu Impi! Karena hanya impi, impi, dan impi yang kami dapatkan. Itu siksa!
Sang Kusir telah menunjukkan jalan menuju Negeri Seribu Mentari yang kami rindui semenjak tindas menerpa dan tandus merajai negeri kami. Kami tak mau amanah diperkosa--bahkan ditindas--tidak menghiraukan teriak yang meriak hingga berkepul menjadi satu! Kami tidak mau negeri kami mengalami ketandusan dalam segala hal--termasuk ketandusan nurani!
Kami akan berdiam di negeri itu, bersama Sang Batara Baru yang akan memimpin kami. Tak menindas dan menanduskan harapan kami lagi! Sang Batara itu telah berdiri teguh, tegak, dan tegar di atas ributnya bayu. Dan dia akan menguakkan senyum pengharapan dalam setiap kami, rakyat yang kehausan akan mentari.
Dan kami bahagia. Jangan ganggu kami.
Dan, jangan tangisi permohonan yang telah terkabur
bersama gemawan.
Jangan meronta.
Jangan menangis--meski cucuran darah sekalipun!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar