Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya sejarah adalah kaca. Kaca yang akan membuat aku memikirkan kembali apa yang sebenarnya berlaku. Kaca yang akan membuat kamu memikirkan kembali keputusanmu. Lebih tepatnya kemerdekaanmu setelah aku tiada.
Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Aku tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Padahal, hakikatnya adalah riak-riak bening yang memantulkan bayangan kita. Aku tidak sanggup melihat riak-riak itu. Dan, aku baru sadar kalau riak-riak itu punya sisi ngeri dan nyeri. Membuat lukaku berdarah. Membuat kamu semakin merdeka atas keputusanmu.
Biar aku beralah.
Biar aku mengalah.
Toh aku bisa apa?
Pada kenangan kita yang lagi-lagi membuncah.
Biarkan impian itu pergi.
Impian untuk kembali padamu.
Toh, untuk apalagi,
mengharapkan yang tak bisa bersatu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar