Mungkin, kita memang tidak selamanya bisa untuk menjadi sepasang. Bahkan, menyentuh jemarimu saja adalah sebuah ketidakmungkinan. Kamu, yang kini membuncah di hari dan hatiku, dengan teganya mengundang dilema di dalam hatiku. Pertanyaan terbesarku saat ini adalah: direstuikah niatku ini?
Melihatmu setiap saat dengan lantunan suara kasar tetapi seksi itu adalah sebuah penawar rindu buatku. Setiap Sabtu, minggu ke-2, aku selalu menunggu-nunggu saat itu. Saat di mana akhirnya aku bisa bercanda, setidaknya berpapasan denganmu. Setelah berpapasan, aku akan bernyanyi bersamamu dengan lagu-lagu yang kumiliki, meski terkadang kamu dan kalian anggap selera laguku adalah sebuah keanehan. Tetapi, memang aku menyukai lagu-laguku yang melekat dalam diriku yang sangat menghidupi semangat kefeminisan ini.
Tetapi, lama-kelamaan, aku menyadari bahwa perasaan suka karena suaramu--awalnya--kini berkembang menjadi perasaan yang tidak wajar. Perasaan yang kini berubah menjadi sebuah rasa yang tersimpan diam-diam. Aku juga tidak menyadari bahwa perasaan ini berubah cinta. Berubah menjadi ingin menyentuh setiap ujung jemarimu. Menyentuh setiap jengkal kulitmu. Tidak kusadari itu, memang. Tetapi apalah daya? Aku tidak kuasa membendung perasaan ini.
Namun, semua berubah ketakutan. Ketakutan yang menguasai. Ketakutan yang kini membuatku berpikir bahwa niatku pasti berbuah restu yang ditolak.
Aku sadar, aku harus berhenti.
Dari aku,
yang ingin menggenggam rasamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar