Kini, aku berjalan menuju sebuah tempat, di mana aku menyimpan sesuatu yang bernama 'janji'. Janji yang dulu sempat kuutarakan kepadamu, mengingat dahulu aku masih bersama. Tetapi, kala aku harus berkaca akan masa sekarang, aku mengetahui bahwa kini hatiku terbagi. Apakah aku harus tetap kembali melunasi janjiku terhadapmu, atau justru aku harus pergi meninggalkanmu dengan sebuah janji yang sebenarnya kusimpan dalam hatiku sendiri?
Kau pernah mengatakan padaku bahwa janji adalah sebuah utang yang harus ditepati. Dan kau menggaungkan kembali janji yang selalu kugembar-gemborkan dalam nada yang kekanak-kanakan itu, "Di hatiku cuma ada kamu." Tetapi, apakah itu justru memberikan sebuah 'ya' pada akhirnya untuk aku katakan sebagai pelunas janjiku sendiri ketika pada akhirnya kita harus berakhir nantinya? Dan aku meragukan janjiku sendiri.
Empunya Semesta Nan Agung, aku meragu akan bibirku sendiri. Apakah aku harus menepati janjiku sendiri bahwa aku akan tetap kembali padanya meski aku harus membuat luka yang sudah lama kutambal kembali mengeluarkan nanah dan berdarah? Aku mengetahui betapa sakitnya aku diprioritaskan di nomor dua, meski aku bahagia telah menjadi yang kedua. Tetapi, apakah dengan menepati janjiku itu, aku akan berubah menjadi seorang perompak keji yang akan kembali merenggut manisnya cinta?
Ini semua salahku. Karena telah menjadi yang kedua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar